TIKADAFFADIL’s Blog


PERMASALAHAN GANK PELAJAR DAN SOLUSINYA
Desember 12, 2008, 9:33 pm
Filed under: Uncategorized

I.  PENDAHULUAN

Berbicara tentang sistem pendidikan dengan berbagai lembaga yang menyertainya ibarat membicarakan gelombang air laut yang tiada hentinya. Asumsi ini tidaklah berlebihan karena banyak hal yang bisa ditinjau di dalamnya serta banyak pula persoalan fundamental melingkupinya  yang nota bene membutuhkan upaya-upaya untuk memecahkan permasalahan  pendidikan tersebut.

Belum lama berselang, masyarakat dikejutkan dengan munculnya rekaman video amatir tentang kesadisan dan keganasan sebuah gank pelajar putri dari Pati, Jawa Tengah. Gank yang terkenal dengan nama “Nero”(yang merupakan akronim dari “NEko-neko keROyok”) ini sempat menghebohkan karena aksi brutalnya dalam “mempermak” dan aksi memelonco sesama pelajar putri yang akan masuk menjadi anggota baru mereka serta aksi perkelahian (pengeroyokan) mereka  Masyarakatpun penuh tanya bagaimana bisa komunitas tersebut berperilaku begitu sadis. Padahal keberadaan gank ini semula adalah komunitas pecinta bola basket di kalangan remaja. Namun tujuan dan fungsi komunitas tersebut berubah dengan mengandalkan aksi kekerasan mereka.

Aksi kekerasan yang dilakukan anak sekolah bukan cuma milik Gank Nero saja. Sebenarnya, aksi model gank pelajar sudah lama terjadi. Misalnya saja, “Gank Gazper” di SMA 34 Jakarta dan juga di SMA 112 Jakarta dengan nama “Black & White” sempat membuat heboh dengan aksinya yang kebablasan (Solihin : 2008). Di era tahun 90-an, kota Yogyakarta juga sempat diresahkan dengan aksi gank pelajar serupa. Dua gank besar dengan sebutan “Joxzin” dan “TRB” ini ditengarai sering melakukan kegiatan yang mengganggu masyarakat seperti aksi “vandalisme” dan corat-coret fasilitas umum.

Fenomena tersebut di atas memang menarik untuk dikaji mengingat semakin maraknya aksi kenakalan remaja dewasa ini disamping fenomena tentang seks bebas di kalangan pelajar dan tawuran antar pelajar. Hal tersebut sungguh sangat memprihatinkan. Di saat bangsa ini berusaha untuk bangkit dari keterpurukannya, fenomena-fenomena di atas justru menambah daftar keterpurukan itu. Namun demikian, fenomena perilaku menyimpang dalam kehidupan bermasyarakat memang menarik untuk dibicarakan, termasuk pula membicarakan tentang fenomena maraknya komunitas gank pelajar saat ini.

Dari fenomena maraknya gank pelajar, muncul beberapa pertanyaan yang akan dikaji dari tinjauan perspektif sosiologis dan akan dibahas dalam makalah ini, yaitu:

1.      Mengapa gank pelajar bisa terbentuk?

2.      Dari manakah sumber kekerasan gank pelajar?

3.      Apa sajakah dampak dari munculnya gank pelajar tersebut?

4.      Bagaimana solusi terhadap permasalahan gank pelajar?

 

 

 

 

 

II. KERANGKA TEORI DAN PEMBAHASAN

A.     KERANGKA TEORI

1.      Masa Perkembangan Remaja

Di dalam tahapan perkembangan anak, Stephen J. Ball (2000 : 1214) menyatakan bahwa masa remaja merupakan suatu fase hidup  dimana individu-individu remaja tersebut sedang mencari dan membentuk konsep diri (self-concept) dan jati diri (self-identity). Sewnada dengan pernyataan tersebut, Nurhaya Nurdin menyatakan bahwa masa-masa teenager atau masa remaja ini adalah merupakan masa pencarian identitas diri (Nurdin: 2008). Masa yang ditandai dengan keinginan untuk membentuk kelompok-kelompok  di luar dari pengawasan orangtua dan keluarga. Tiap remaja ingin diakui oleh remaja lainnya, entah karena prestasi, kesamaan minat dan hobi ataukah karena alasan lain yang hanya mereka sendiri yang tahu. Maka, dengan dasar alasan seperti itulah gang bengal semacam gang Nero bisa terbentuk.

 

2.      Perilaku Menyimpang Remaja

Dalam perspektif sosiologi, kajian perilaku menyimpang dipelajari karena berkaitan dengan pelanggaran terhadap norma-norma sosial dan nilai-nilai kultural yang telah ditegakkan oleh masyarakat. Selain itu, sosiologi membantu masyarakat untuk dapat menggali akar-akar penyebab terjadinya tindakan menyimpang dan upaya untuk menghentikan atau paling tidak menahan bertambahnya penyimpangan perilaku tersebut.

Sixtus Tanje (2008) menyatakan bahwa remaja yang masih bersekolah

di SMP/SMU selalu mendapat banyak hambatan atau masalah yang biasanya muncul dalam bentuk perilaku. Permasalahan tersebut adalah:

  1. Perilaku Bermasalah (Problem Behaviour). Masalah perilaku yang dialami remaja di sekolah dapat dikatakan masih dalam kategori wajar jika tidak merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Dampak perilaku bermasalah yang dilakukan remaja akan menghambat dirinya dalam proses sosialisasinya dengan remaja lain, dengan guru dan dengan masyarakat. Jadi, problem behaviour akan merugikan secara tidak langsung pada remaja di sekolah akibat perilakunya sendiri. Misalnya, perilaku malu dalam mengikuti berbagai aktivitas yang digelar sekolah termasuk dalam kategori ini.
  2. Perilaku Menyimpang (Behaviour Disorder). Seorang remaja mengalami hal ini jika ia tidak tenang, unhappiness dan menyebabkan hilangnya konsentrasi diri. Perilaku menyimpang pada remaja akan mengakibatkan munculnya tindakan tidak terkontrol yang mengarah pada tindakan kejahatan. Wardi Bachtiar (2006 : 101) menyatakan bahwa secara umum, yang digolongkan sebagai perilaku menyimpang antara lain adalah:

·        Tindakan yang nonconform, yaitu perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai atau norma-norma yang ada.

·        Tindakan yang anti-sosial atau asosial

·        Tindakan kriminal, yaitu tindakan yang secara nyata melanggar aturan hukum tertulis dan mengancam jiwa atau keselamatan orang lain.

Penyebab perilaku ini lebih banyak karena persoalan psikhologis yang selalu menghantui dirinya.

  1. Penyesuaian Diri yang Salah (Behaviour Maladjustment). Perilaku yang tidak sesuai yang dilakukan remaja biasanya didorong oleh keinginan mencari jalan pintas dalam menyelesaikan sesuatu tanpa mendefinisikan secara cermat akibatnya.
  2. Perilaku Tidak Dapat Membedakan Benar-Salah (Conduct Disorder). Kecenderungan pada sebagian remaja adalah tidak mampu membedakan antara perilaku benar dan salah. Wujud dari perilaku ini adalah munculnya cara pikIr dan perilaku yang kacau dan sering menyimpang dari aturan yang berlaku di sekolah. Selain itu, conduct disorder juga dikategorikan pada remaja yang berperilaku oppositional deviant disorder yaitu perilaku oposisi yang ditunjukkan remaja yang menjurus ke unsur permusuhan yang akan merugikan orang lain.

Oleh karena itu, orang-orang dan remaja yang berperilaku menyimpang baik disengaja ataupun tidak, dapat dianggap telah mengabaikan tata tertib atau aturan-aturan yang telah ditetapkan masyarakat.

Sehubungan dengan pembentukan komunitas gank pelajar, penyimpangan ini dianggap sebagai penyimpangan yang dilakukan oleh kelompok atau disebut juga subkultur menyimpang dimana para anggota dari subkultur tersebut biasanya juga mengajarkan kepada anggota-anggota barunya tentang berbagai keterampilan untuk melanggar hokum dan menghindari kejaran agen-agen kontrol sosial (Wardi Bachtiar, 2006:108). Mereka juga mengindoktrinasi suatu keyakinan yang berbeda dari keyakinan yang dianut mayoritas masyarakat kepada anggota yuniornya. Begitu pula ketika menerima keanggotaan baru, ujian yang cukup keras akan diberlakukan kepada anggota-anggota baru tersebut.

 

 

3.      Teori-teori Penyimpangan Berperspektif  Sosiologis

Teori-teori penyimpangan yang berperspektif sosiologis antara lain adalah teori Anomie, Sosialisasi, Kontrol Sosial, Labeling dan Konflik (Wardi Bachtiar, 2006 : 112-119).

a.      Teori Anomie berasumsi bahwa penyimpangan adalah akibat dari adanya berbagai ketegangan dalam suatu struktur sosial sehingga ada individu-individu yang mengalami tekanan dan akhirnya menjadi penyimpang.

b.      Teori Belajar atau Teori Sosialisasi menyebutkan bahwa penyimpangan perilaku adalah hasil dari proses belajar. Sutherland dalam teori belajarnya yang dikenal dengan Asosiasi Diferensial menyatakan bahwa penyimpangan adalah konsekuensi dari kemahiran dan penguasaan atas suatu sikap atau tindakan yang dipelajari dari norma-norma yang menyimpang, terutama dari subkultur atau diantara teman-teman sebaya yang menyimpang.

c.       Teori Labeling (Teori Pemberian Cap atau Teori Reaksi Masyarakat) menganggap penyimpangan sebagai suatu konsekuensi dari penerapan aturan-aturan dan sanksi oleh orang lain kepada seorang pelanggar. Dengan kata lain, menyimpang adalah tindakan yang dilabelkan kepada seseorang atau pada siapa label secara khusus telah ditetapkan. Dalam hal ini, penyimpangan tidak ditetapkan berdasarkan norma tetapi melalui reaksi atau sanksi dari penonton sosialnya.

d.      Teori Kontrol menyatakan bahwa penyimpangan merupakan hasil dari kekosongan kontrol atau pengendalian sosial. Teori ini dibangun atas dasar pandangan bahwa setiap manusia cenderung untuk tidak patuh pada hokum atau memiliki dorongan untuk melakukan pelanggaran hukum.

e.      Teori Konflik. Dalam perspektif sosiologi pendidikan, permasalahan tentang munculnya gank pelajar bisa dilihat dari perspektif Teori Konflik. Jeanne H. Ballantine dalam bukunya The Sociology of Education (2001) menyebutkan bahwa perspektif teori konflik mengasumsikan sebuah pertentangan (konflik) dalam masyarakat dan bagian-bagiannya yang tercipta dengan adanya keinginan-keinginan untuk berkompetisi antar individu dan kelompok. Dengan kata lain, perspektif konflik memahami masyarakat sebagai kelompok-kelompok dengan berbagai kepentingan yang bersaing dan akan cenderung saling bersaing.

 Para ahli perspektif teori konflik masa kini melihat bahwa konflik merupakan fenomena yang senantiasa ada dalam kehidupan sosial dan sebagai hasilnya masyarakat senantiasa berada dalam perubahan yang terus menerus (Bowles & Gintis dalam Ballantine, 2001).

Konflik dalam pandangan para ahli perspektif konflik masa kini, meliputi bidang yang luas dimana terjadi pertentangan dari berbagai kepentingan dan kelompok dalam masyarakat. Jadi konflik bukan hanya antara pemilik modal dengan para buruh seperti dikemukakan oleh Marx, tetapi juga meliputi pertentangan antara orang muda dengan orang tua, antara pria dengan wanita, antara satu etnis atau ras tertentu sebagaimana antara pemilik modal dengan para buruh. Sehubungan dengan munculnya gank pelajar dewasa ini, oleh sebagian pihak dianggap karena adanya konflik dari diri para anggota komunitasnya itu sendiri serta konflik dengan pihak lain  antara lain konflik dengan orang tua, saudara, teman, atau bahkan dengan guru atau pihak sekolah.

Dengan melihat pada kenyataan di atas, konflik dipandang sebagai suatu hal yang utama. Bahkan konflik dianggap sebagai fakta sosial yang mendasar (Wardi Bachtiar, 2006:108).

Namun demikian, konflik itu sendiri bagi para pelajar tersebut menunjuk pada perjuangan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang dilakukan untuk berusaha mempertahankan, meningkatkan dan menjaga posisi sosial mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Di sisi lain, beberapa ahli perspektif teori konflik modern, misalnya Dahrendorf dan Lewis Coser, melihat adanya peranan konflik dalam menciptakan integrasi, yang ditandai oleh adanya kekuatan yang menyumbang terjadinya keteraturan dan stabilitas. Bagaimana konflik memiliki peran integratif dapat dipahami dengan melihat  bahwa semua orang memiliki kepentingan yang sama akan bekerja sama untuk berusaha mencapainya agar keuntungan dapat diraih bersama. Konflik antar ras misalnya dapat menjadi pengikat kebersamaan dalam suatu ras tertentu, serta mengabaikan perbedaan-perbedaan diantara mereka sendiri.

Namun dari fenomena maraknya gank pelajar, masyarakat menilai bahwa konflik tersebut dilihat sebagai proses yang destruktif (merusak) yang akan membawa pada kondisi ketidakteraturan (disorder) dan pecahnya masyarakat.

 

B.     PEMBAHASAN

 Sungguh ironis sekali melihat aksi kebrutalan para anggota komunitas gank anak sekolah yang banyak bermunculan dewasa ini dan banyak diantaranya mengarah ke tindakan anarkhis. Sehubungan dengan terbentuknya gank remaja, Ballantine (2001 : 195) menjelaskan sebagai berikut:

Youth gangs are found in every area of the United States and many other countries. Why do youth join gangs? Joining a gang, some argue, is a class and ethnic group issue. Most gangs are made up of disaffected youth living in poor neighborhoods, having difficulty in school, and sometimes from ethnic groups that are not integrated into the mainstream society. Youths join gangs for protection and to show strong loyalty to their neighborhood and “protect their turf”. Gang involvement is also related to risk-taking behaviors and the rate of delinquent acts is high for gang members.

 

 

Dalam pembahasan ini akan dikupas lebih lanjut mengenai proses dan penyebab gank pelajar bisa terbentuk, sumber kekerasan gank pelajar, dampak dari munculnya gank pelajar tersebut serta solusi terhadap fenomena gank pelajar.

1.      Penyebab dan Proses Terbentuknya Gank Pelajar

Penyebab munculnya gank remaja diungkapkan oleh Nasution (1993 : 84) sebagai berikut:

Pengelompokan atau pembentukan klik (clique) mudah terjadi di sekolah. Suatu klik terbentuk bila dua orang atau lebih saling merasa persahabatan yang akrab dan karena itu banyak bermain bersama, sering bercakap-cakap, merencanakan dan melakukan kegiatan yang sama di dalam maupun di luar sekolah. Mereka saling merasakan apa yang dialami oleh salah seorang anggota kelompoknya dan saling mengungkapkan apa yang terkandung dalam hatinya termasuk apa yang dirahasiakan pada orang lain.

Anggota klik merasa diri bersatu dan kuat serta penuh kepercayaan berkat rasa persatuan dan kekompakan itu. Mereka mengutamakan kepentingan kelompok di atas kepentingan individual dan sikap ini dapat menimbulkan konflik dengan orang tua, sekolah, dan klik-klik lainnya. Bila klik ini mempunyai sikap anti sosial maka klik itu dapat menjadi “geng

 

Senada dengan pernyataan di atas, Nurhaya Nurdin (2008) menyatakan bahwa terbentuknya kelompok remaja itu dimulai  hanya sekedar dua atau tiga orang yang satu hati bergabung menjadi satu grup kecil, kemudian ada teman lain yang juga sama asyiknya diajak jalan dan  curhat ingin bergabung, maka tidak lama jadilah sebuah grup yang dinamai geng.

Membentuk sebuah gank adalah sebuah hal yang lumrah. Merunut hirarki kebutuhan dasar Maslow, pembentukan gank adalah salah satu bentuk dari adanya kebutuhan aktualisasi diri. Kaum remaja ingin diakui orang, ingin dihargai dan menjadi bagian dari suatu komunitas. Dengan kata lain, remaja bergabung menjadi anggota komunitas suatu gank karena untuk mendapatkan perlindungan dan menunjukkan kesetiaan yang kuat terhadap organisasi kepada masyarakat luar serta melindungi kelompok mereka.

Namun sayangnya, dalam pengimplementasiannya banyak terjadi penyelewengan yang sudah off track dari niat awal dibentuknya group atau gank tersebut. Hingga tanpa sepengetahuan orang dewasa, jadilah aksi brutal dengan alasan solidaritas membela teman gank.

Seperti yang dinyatakan oleh Ballantine sebelumnya, sebagian besar gank pelajar terbentuk dari kehidupan remaja yang salah, mempunyai masalah di sekolah, atau bahkan kadang-kadang berasal dari lingkungan yang tidak berintegrasi dengan lingkungan masyarakat.

Senada dengan hal itu, Tanje (2008) menjelaskan tentang beberapa hal yang melatarbelakangi kenakalan remaja, diantaranya adalah kehidupan keluarga yang kering, terpecah-pecah (broken home), dan tidak harmonis yang akan menyebabkan anak tidak kerasan tinggal di rumah dan tidak merasa aman serta tidak mengalami perkembangan emosional yang seimbang.

Faktor kedua adalah kurangnya pembinaan moral yang nyata dan pudarnya keteladanan nyata dari orang tua, guru di sekolah, dan tokoh-tokoh panutan di masyarakat yang akan memberikan pengaruh yang besar kepada sikap, perilaku dan moralitas remaja di sekolah. Pendidikan di sekolahpun terkadang terjerumus pada formalitas pemenuhan kurikulum pendidikan, mengejar bahan ajaran sehingga melupakan segi pembinaan kepribadian, penanaman nilai-nilai pendidikan moral dan pembentukan sikap.

Kurangnya dukungan kehidupan sosial ekonomi keluarga dan masyarakat terhadap optimalisasi perkembangan remaja merupakan faktor ketiga. Hal lain yang menjadi latar belakang munculnya gank pelajar adalah pengaruh tayangan media massa baik cetak maupun elektronik yang acapkali menonjolkan unsur kekerasan dan diwarnai oleh berbagai aksi  kebrutalan.

2.      Sumber Kekerasan di Kalangan Pelajar

Seto Mulyadi (2008) mensinyalir bahwa sumber kekerasan yang terjadi di kalangan remaja sehingga terbentuk berbagai kelompok remaja atau gank adalah sebagai berikut:

a.       Adanya paradigma yang salah dalam mendidik anak baik pada keluarga dan sekolah. Banyak orang yang beranggapan bahwa dengan melakukan tindakan keras seperti menjewer, memukul, mencubit bisa menekankan disiplin pada anak. Justru perilaku kekerasan itu akan terus berkembang di dalam diri anak dan dianggap biasa. Alhasil, kepada temannyapun dia melakukan kekerasan serupa atau lebih.

b.      Akibat pengaruh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam waktu yang sangat singkat, informasi-informasi tentang peristiwa-peristiwa, pesan, pendapat, berita, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya dengan mudah diterima oleh masyarakat sehingga media massa – surat kabar, TV, film, radio, majalah dan lainnya – mempunyai peranan penting dalam proses transformasi nilai-nilai dan norma-norma baru kepada masyarakat. Media massa, terutama media TV juga mempunyai peranan dalam membentuk kebiasaan melakukan kekerasan. Tayangan berita berisi adegan kekerasan dan adegan yang menjurus ke pornografi direkam sangat baik oleh remaja dan anak-anak. Mereka akan menganggap bahwa itu semua wajar dilakukan dan merasa layak melakukan hal serupa. Hal inilah yang menyulut perilaku agresif remaja dan mengakibatkan terjadinya pergeseran moral pergaulan serta meningkatkan terjadinya berbagai pelanggaran norma susila.

c.       Krisis ekonomi juga menjadi salah satu faktor di mana pemenuhan kebutuhan remaja dirasa kurang.  Namun, ditengarai faktor ini bukanlah dominan karena banyak pula kenakalan remaja muncul dari kalangan remaja yang berasal dari keluarga mampu.

3.      Dampak Terbentuknya Gank Pelajar

Di dalam membahas tentang “gangs at schools”, Burnett dan Walz dalam Jeanne H. Ballantine (2001:196) menjelaskan sebagai berikut:

What do gang members do? Many gangs are involved in serious and violent crimes. Twenty eight percent of the gangs were organized specifically for trafficking in drugs; other gangs committed assaults and robberies, sometimes along with drug activities. Fighting, stealing, alcohol dealing, and drug dealing leads to power and respect from other gang members.

How do gangs affect schools? In fact, the number of gang members in schools is usually fairly small, but the gang presence can be quite disruptive, bringing into schools fear, violence, drugs and recruitment for gangs.

 

 

Dari pernyataan di atas, jelaslah bahwa perilaku yang diperlihatkan oleh para anggota gank remaja lebih banyak condong pada tindakan kriminal yang mengganggu dan bersifat serius. Banyak diantara mereka yang terlibat dalam penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan narkoba serta tidak sedikit yang terlibat perampokan bahkan pembunuhan selain tawuran (perkelahian), minum minuman keras dan mencuri.

Sebenarnya dilihat dari sisi jumlah mereka yang relatif  kecil, tidaklah imbang dengan jumlah siswa secara keseluruhan. Namun, keberadaan mereka  bisa meresahkan atau bahkan mengganggu sehingga menimbulkan keresahan, ketakutan, keributan, kriminalitas, atau bahkan perekrutan anggota gank baru. Tidak hanya di kalangan sekolah, keresahan dan ketakutan itu bisa merebak sampai ke masyarakat luas.

 

4.      Solusi Terhadap Maraknya Gank Pelajar

Permasalahan maraknya gank remaja decade ini jika tidak segera dicarikan solusinya, maka kebiasaan melakukan tindak kekerasan itu bisa terbawa hingga dewasa. Bukan tidak mungkin kelak mereka yang terbiasa dengan tindakan kekerasan sejak kecil dan remaja ini akan terus melakukan kekerasan sampai mereka menjadi orang tua dan menurunkan kepada anak-anaknya sehingga bisa dibayangkan generasi macam apa yang akan terbentuk di masa mendatang.

Di dalam perkembangan remaja yang sedang mencari identitas dan eksistensi diri dalam kehidupan bermasyarakat, diperlukan peran serta aktif dari berbagai pihak dalam melancarkan pencapaian kepribadian yang dewasa bagi para remaja. Berikut ini adalah beberapa langkah yang bisa ditempuh dalam mencegah terbentuknya gank remaja lebih banyak lagi, yaitu dengan:

  1. Mengubah paradigma yang salah dalam keluarga dan sekolah bahwa kekerasan adalah salah satu bentuk pendidikan disiplin pada anak.
  2. Memberikan kesempatan untuk mengadakan dialog untuk menyiapkan jalan bagi tindakan bersama baik antara remaja dengan orang tua, pendidik di sekolah dan masyarakat.
  3. Pemerintah harus tegas kepada media, sensor pada adegan kekerasan di TV dan media lain. Komite Penyiaran Indonesia (KPI) harus lebih tajam.
  4. Intensitas sosialisasi berupa kampanye, pidato dan talkshow bahwa tindakan kekerasan pada anak-anak harus dihentikan perlu lebih ditingkatkan.
  5. Perlunya peninjauan kembali untuk memberikan pendidikan budi pekerti atau pendidikan karakter di sekolah karena disinyalir sekolah lebih mengutamakan aspek kognitif saja dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Moralitas sangatlah penting ditumbuhkan dalam diri setiap anak. Hal ini perlu dipertimbangkan mengingat di tengah kebangkrutan moral bangsa, maraknya tindak kekerasan, inkoherensi politisi atas retorika politik dan perilaku keseharian maka pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-religius menjadi relevan untuk diterapkan.

 

III. KESIMPULAN

Fenomena maraknya komunitas gank pelajar/remaja dewasa ini disebabkan karena kehidupan keluarga yang kering, terpecah-pecah (broken home) dan tidak harmonis yang akan menyebabkan anak tidak kerasan tinggal di rumah dan tidak merasa aman serta tidak mengalami perkembangan emosional yang seimbang. Selain itu, kurangnya pembinaan moral yang nyata dan pudarnya keteladanan nyata dari orang tua, guru di sekolah, dan tokoh-tokoh panutan di masyarakat yang akan memberikan pengaruh yang besar kepada sikap, perilaku dan moralitas remaja, serta kurangnya dukungan kehidupan sosial ekonomi keluarga dan masyarakat terhadap optimalisasi perkembangan remaja.

Adapun yang menjadi sumber dari terbentuknya gank tersebut adalah adanya paradigma yang salah dalam mendidik anak baik pada keluarga dan sekolah, pengaruh media massa, terutama media TV yang mempunyai peranan dalam membentuk kebiasaan melakukan kekerasan, serta krisis ekonomi yang juga menjadi salah satu faktor di mana pemenuhan kebutuhan remaja dirasa kurang.

Dampak dari munculnya gank-gank tersebut adalah bahwa dengan keberadaan mereka di sekolah maupun di kalangan masyarakat dapat meresahkan atau bahkan mengganggu sehingga menimbulkan keresahan, ketakutan, keributan, kriminalitas, atau bahkan perekrutan anggota gank baru. Tidak hanya di kalangan sekolah, keresahan dan ketakutan itu bisa merebak sampai ke masyarakat luas.

Jalan keluar bagi pemecahan permasalahan maraknya gank pelajar adalah dengan:

1.      Mengubah paradigma yang salah dalam keluarga dan sekolah bahwa kekerasan adalah salah satu bentuk pendidikan disiplin pada anak.

2.      Memberikan kesempatan untuk mengadakan dialog untuk menyiapkan jalan bagi tindakan bersama baik antara remaja dengan orang tua, pendidik di sekolah dan masyarakat.

3.      Pemerintah harus tegas kepada media, sensor pada adegan kekerasan di TV dan media lain. Komite Penyiaran Indonesia (KPI) harus lebih tajam.

4.      Intensitas sosialisasi berupa kampanye, pidato dan talkshow bahwa tindakan kekerasan pada anak-anak harus dihentikan perlu lebih ditingkatkan.

5.      Perlunya peninjauan kembali untuk memberikan pendidikan budi pekerti atau pendidikan karakter di sekolah

About these ads

Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: