TIKADAFFADIL’s Blog


PERMASALAHAN GANK PELAJAR DAN SOLUSINYA
Desember 12, 2008, 9:33 pm
Filed under: Uncategorized

I.  PENDAHULUAN

Berbicara tentang sistem pendidikan dengan berbagai lembaga yang menyertainya ibarat membicarakan gelombang air laut yang tiada hentinya. Asumsi ini tidaklah berlebihan karena banyak hal yang bisa ditinjau di dalamnya serta banyak pula persoalan fundamental melingkupinya  yang nota bene membutuhkan upaya-upaya untuk memecahkan permasalahan  pendidikan tersebut.

Belum lama berselang, masyarakat dikejutkan dengan munculnya rekaman video amatir tentang kesadisan dan keganasan sebuah gank pelajar putri dari Pati, Jawa Tengah. Gank yang terkenal dengan nama “Nero”(yang merupakan akronim dari “NEko-neko keROyok”) ini sempat menghebohkan karena aksi brutalnya dalam “mempermak” dan aksi memelonco sesama pelajar putri yang akan masuk menjadi anggota baru mereka serta aksi perkelahian (pengeroyokan) mereka  Masyarakatpun penuh tanya bagaimana bisa komunitas tersebut berperilaku begitu sadis. Padahal keberadaan gank ini semula adalah komunitas pecinta bola basket di kalangan remaja. Namun tujuan dan fungsi komunitas tersebut berubah dengan mengandalkan aksi kekerasan mereka.

Aksi kekerasan yang dilakukan anak sekolah bukan cuma milik Gank Nero saja. Sebenarnya, aksi model gank pelajar sudah lama terjadi. Misalnya saja, “Gank Gazper” di SMA 34 Jakarta dan juga di SMA 112 Jakarta dengan nama “Black & White” sempat membuat heboh dengan aksinya yang kebablasan (Solihin : 2008). Di era tahun 90-an, kota Yogyakarta juga sempat diresahkan dengan aksi gank pelajar serupa. Dua gank besar dengan sebutan “Joxzin” dan “TRB” ini ditengarai sering melakukan kegiatan yang mengganggu masyarakat seperti aksi “vandalisme” dan corat-coret fasilitas umum.

Fenomena tersebut di atas memang menarik untuk dikaji mengingat semakin maraknya aksi kenakalan remaja dewasa ini disamping fenomena tentang seks bebas di kalangan pelajar dan tawuran antar pelajar. Hal tersebut sungguh sangat memprihatinkan. Di saat bangsa ini berusaha untuk bangkit dari keterpurukannya, fenomena-fenomena di atas justru menambah daftar keterpurukan itu. Namun demikian, fenomena perilaku menyimpang dalam kehidupan bermasyarakat memang menarik untuk dibicarakan, termasuk pula membicarakan tentang fenomena maraknya komunitas gank pelajar saat ini.

Dari fenomena maraknya gank pelajar, muncul beberapa pertanyaan yang akan dikaji dari tinjauan perspektif sosiologis dan akan dibahas dalam makalah ini, yaitu:

1.      Mengapa gank pelajar bisa terbentuk?

2.      Dari manakah sumber kekerasan gank pelajar?

3.      Apa sajakah dampak dari munculnya gank pelajar tersebut?

4.      Bagaimana solusi terhadap permasalahan gank pelajar?

 

 

 

 

 

II. KERANGKA TEORI DAN PEMBAHASAN

A.     KERANGKA TEORI

1.      Masa Perkembangan Remaja

Di dalam tahapan perkembangan anak, Stephen J. Ball (2000 : 1214) menyatakan bahwa masa remaja merupakan suatu fase hidup  dimana individu-individu remaja tersebut sedang mencari dan membentuk konsep diri (self-concept) dan jati diri (self-identity). Sewnada dengan pernyataan tersebut, Nurhaya Nurdin menyatakan bahwa masa-masa teenager atau masa remaja ini adalah merupakan masa pencarian identitas diri (Nurdin: 2008). Masa yang ditandai dengan keinginan untuk membentuk kelompok-kelompok  di luar dari pengawasan orangtua dan keluarga. Tiap remaja ingin diakui oleh remaja lainnya, entah karena prestasi, kesamaan minat dan hobi ataukah karena alasan lain yang hanya mereka sendiri yang tahu. Maka, dengan dasar alasan seperti itulah gang bengal semacam gang Nero bisa terbentuk.

 

2.      Perilaku Menyimpang Remaja

Dalam perspektif sosiologi, kajian perilaku menyimpang dipelajari karena berkaitan dengan pelanggaran terhadap norma-norma sosial dan nilai-nilai kultural yang telah ditegakkan oleh masyarakat. Selain itu, sosiologi membantu masyarakat untuk dapat menggali akar-akar penyebab terjadinya tindakan menyimpang dan upaya untuk menghentikan atau paling tidak menahan bertambahnya penyimpangan perilaku tersebut.

Sixtus Tanje (2008) menyatakan bahwa remaja yang masih bersekolah

di SMP/SMU selalu mendapat banyak hambatan atau masalah yang biasanya muncul dalam bentuk perilaku. Permasalahan tersebut adalah:

  1. Perilaku Bermasalah (Problem Behaviour). Masalah perilaku yang dialami remaja di sekolah dapat dikatakan masih dalam kategori wajar jika tidak merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Dampak perilaku bermasalah yang dilakukan remaja akan menghambat dirinya dalam proses sosialisasinya dengan remaja lain, dengan guru dan dengan masyarakat. Jadi, problem behaviour akan merugikan secara tidak langsung pada remaja di sekolah akibat perilakunya sendiri. Misalnya, perilaku malu dalam mengikuti berbagai aktivitas yang digelar sekolah termasuk dalam kategori ini.
  2. Perilaku Menyimpang (Behaviour Disorder). Seorang remaja mengalami hal ini jika ia tidak tenang, unhappiness dan menyebabkan hilangnya konsentrasi diri. Perilaku menyimpang pada remaja akan mengakibatkan munculnya tindakan tidak terkontrol yang mengarah pada tindakan kejahatan. Wardi Bachtiar (2006 : 101) menyatakan bahwa secara umum, yang digolongkan sebagai perilaku menyimpang antara lain adalah:

·        Tindakan yang nonconform, yaitu perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai atau norma-norma yang ada.

·        Tindakan yang anti-sosial atau asosial

·        Tindakan kriminal, yaitu tindakan yang secara nyata melanggar aturan hukum tertulis dan mengancam jiwa atau keselamatan orang lain.

Penyebab perilaku ini lebih banyak karena persoalan psikhologis yang selalu menghantui dirinya.

  1. Penyesuaian Diri yang Salah (Behaviour Maladjustment). Perilaku yang tidak sesuai yang dilakukan remaja biasanya didorong oleh keinginan mencari jalan pintas dalam menyelesaikan sesuatu tanpa mendefinisikan secara cermat akibatnya.
  2. Perilaku Tidak Dapat Membedakan Benar-Salah (Conduct Disorder). Kecenderungan pada sebagian remaja adalah tidak mampu membedakan antara perilaku benar dan salah. Wujud dari perilaku ini adalah munculnya cara pikIr dan perilaku yang kacau dan sering menyimpang dari aturan yang berlaku di sekolah. Selain itu, conduct disorder juga dikategorikan pada remaja yang berperilaku oppositional deviant disorder yaitu perilaku oposisi yang ditunjukkan remaja yang menjurus ke unsur permusuhan yang akan merugikan orang lain.

Oleh karena itu, orang-orang dan remaja yang berperilaku menyimpang baik disengaja ataupun tidak, dapat dianggap telah mengabaikan tata tertib atau aturan-aturan yang telah ditetapkan masyarakat.

Sehubungan dengan pembentukan komunitas gank pelajar, penyimpangan ini dianggap sebagai penyimpangan yang dilakukan oleh kelompok atau disebut juga subkultur menyimpang dimana para anggota dari subkultur tersebut biasanya juga mengajarkan kepada anggota-anggota barunya tentang berbagai keterampilan untuk melanggar hokum dan menghindari kejaran agen-agen kontrol sosial (Wardi Bachtiar, 2006:108). Mereka juga mengindoktrinasi suatu keyakinan yang berbeda dari keyakinan yang dianut mayoritas masyarakat kepada anggota yuniornya. Begitu pula ketika menerima keanggotaan baru, ujian yang cukup keras akan diberlakukan kepada anggota-anggota baru tersebut.

 

 

3.      Teori-teori Penyimpangan Berperspektif  Sosiologis

Teori-teori penyimpangan yang berperspektif sosiologis antara lain adalah teori Anomie, Sosialisasi, Kontrol Sosial, Labeling dan Konflik (Wardi Bachtiar, 2006 : 112-119).

a.      Teori Anomie berasumsi bahwa penyimpangan adalah akibat dari adanya berbagai ketegangan dalam suatu struktur sosial sehingga ada individu-individu yang mengalami tekanan dan akhirnya menjadi penyimpang.

b.      Teori Belajar atau Teori Sosialisasi menyebutkan bahwa penyimpangan perilaku adalah hasil dari proses belajar. Sutherland dalam teori belajarnya yang dikenal dengan Asosiasi Diferensial menyatakan bahwa penyimpangan adalah konsekuensi dari kemahiran dan penguasaan atas suatu sikap atau tindakan yang dipelajari dari norma-norma yang menyimpang, terutama dari subkultur atau diantara teman-teman sebaya yang menyimpang.

c.       Teori Labeling (Teori Pemberian Cap atau Teori Reaksi Masyarakat) menganggap penyimpangan sebagai suatu konsekuensi dari penerapan aturan-aturan dan sanksi oleh orang lain kepada seorang pelanggar. Dengan kata lain, menyimpang adalah tindakan yang dilabelkan kepada seseorang atau pada siapa label secara khusus telah ditetapkan. Dalam hal ini, penyimpangan tidak ditetapkan berdasarkan norma tetapi melalui reaksi atau sanksi dari penonton sosialnya.

d.      Teori Kontrol menyatakan bahwa penyimpangan merupakan hasil dari kekosongan kontrol atau pengendalian sosial. Teori ini dibangun atas dasar pandangan bahwa setiap manusia cenderung untuk tidak patuh pada hokum atau memiliki dorongan untuk melakukan pelanggaran hukum.

e.      Teori Konflik. Dalam perspektif sosiologi pendidikan, permasalahan tentang munculnya gank pelajar bisa dilihat dari perspektif Teori Konflik. Jeanne H. Ballantine dalam bukunya The Sociology of Education (2001) menyebutkan bahwa perspektif teori konflik mengasumsikan sebuah pertentangan (konflik) dalam masyarakat dan bagian-bagiannya yang tercipta dengan adanya keinginan-keinginan untuk berkompetisi antar individu dan kelompok. Dengan kata lain, perspektif konflik memahami masyarakat sebagai kelompok-kelompok dengan berbagai kepentingan yang bersaing dan akan cenderung saling bersaing.

 Para ahli perspektif teori konflik masa kini melihat bahwa konflik merupakan fenomena yang senantiasa ada dalam kehidupan sosial dan sebagai hasilnya masyarakat senantiasa berada dalam perubahan yang terus menerus (Bowles & Gintis dalam Ballantine, 2001).

Konflik dalam pandangan para ahli perspektif konflik masa kini, meliputi bidang yang luas dimana terjadi pertentangan dari berbagai kepentingan dan kelompok dalam masyarakat. Jadi konflik bukan hanya antara pemilik modal dengan para buruh seperti dikemukakan oleh Marx, tetapi juga meliputi pertentangan antara orang muda dengan orang tua, antara pria dengan wanita, antara satu etnis atau ras tertentu sebagaimana antara pemilik modal dengan para buruh. Sehubungan dengan munculnya gank pelajar dewasa ini, oleh sebagian pihak dianggap karena adanya konflik dari diri para anggota komunitasnya itu sendiri serta konflik dengan pihak lain  antara lain konflik dengan orang tua, saudara, teman, atau bahkan dengan guru atau pihak sekolah.

Dengan melihat pada kenyataan di atas, konflik dipandang sebagai suatu hal yang utama. Bahkan konflik dianggap sebagai fakta sosial yang mendasar (Wardi Bachtiar, 2006:108).

Namun demikian, konflik itu sendiri bagi para pelajar tersebut menunjuk pada perjuangan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang dilakukan untuk berusaha mempertahankan, meningkatkan dan menjaga posisi sosial mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Di sisi lain, beberapa ahli perspektif teori konflik modern, misalnya Dahrendorf dan Lewis Coser, melihat adanya peranan konflik dalam menciptakan integrasi, yang ditandai oleh adanya kekuatan yang menyumbang terjadinya keteraturan dan stabilitas. Bagaimana konflik memiliki peran integratif dapat dipahami dengan melihat  bahwa semua orang memiliki kepentingan yang sama akan bekerja sama untuk berusaha mencapainya agar keuntungan dapat diraih bersama. Konflik antar ras misalnya dapat menjadi pengikat kebersamaan dalam suatu ras tertentu, serta mengabaikan perbedaan-perbedaan diantara mereka sendiri.

Namun dari fenomena maraknya gank pelajar, masyarakat menilai bahwa konflik tersebut dilihat sebagai proses yang destruktif (merusak) yang akan membawa pada kondisi ketidakteraturan (disorder) dan pecahnya masyarakat.

 

B.     PEMBAHASAN

 Sungguh ironis sekali melihat aksi kebrutalan para anggota komunitas gank anak sekolah yang banyak bermunculan dewasa ini dan banyak diantaranya mengarah ke tindakan anarkhis. Sehubungan dengan terbentuknya gank remaja, Ballantine (2001 : 195) menjelaskan sebagai berikut:

Youth gangs are found in every area of the United States and many other countries. Why do youth join gangs? Joining a gang, some argue, is a class and ethnic group issue. Most gangs are made up of disaffected youth living in poor neighborhoods, having difficulty in school, and sometimes from ethnic groups that are not integrated into the mainstream society. Youths join gangs for protection and to show strong loyalty to their neighborhood and “protect their turf”. Gang involvement is also related to risk-taking behaviors and the rate of delinquent acts is high for gang members.

 

 

Dalam pembahasan ini akan dikupas lebih lanjut mengenai proses dan penyebab gank pelajar bisa terbentuk, sumber kekerasan gank pelajar, dampak dari munculnya gank pelajar tersebut serta solusi terhadap fenomena gank pelajar.

1.      Penyebab dan Proses Terbentuknya Gank Pelajar

Penyebab munculnya gank remaja diungkapkan oleh Nasution (1993 : 84) sebagai berikut:

Pengelompokan atau pembentukan klik (clique) mudah terjadi di sekolah. Suatu klik terbentuk bila dua orang atau lebih saling merasa persahabatan yang akrab dan karena itu banyak bermain bersama, sering bercakap-cakap, merencanakan dan melakukan kegiatan yang sama di dalam maupun di luar sekolah. Mereka saling merasakan apa yang dialami oleh salah seorang anggota kelompoknya dan saling mengungkapkan apa yang terkandung dalam hatinya termasuk apa yang dirahasiakan pada orang lain.

Anggota klik merasa diri bersatu dan kuat serta penuh kepercayaan berkat rasa persatuan dan kekompakan itu. Mereka mengutamakan kepentingan kelompok di atas kepentingan individual dan sikap ini dapat menimbulkan konflik dengan orang tua, sekolah, dan klik-klik lainnya. Bila klik ini mempunyai sikap anti sosial maka klik itu dapat menjadi “geng

 

Senada dengan pernyataan di atas, Nurhaya Nurdin (2008) menyatakan bahwa terbentuknya kelompok remaja itu dimulai  hanya sekedar dua atau tiga orang yang satu hati bergabung menjadi satu grup kecil, kemudian ada teman lain yang juga sama asyiknya diajak jalan dan  curhat ingin bergabung, maka tidak lama jadilah sebuah grup yang dinamai geng.

Membentuk sebuah gank adalah sebuah hal yang lumrah. Merunut hirarki kebutuhan dasar Maslow, pembentukan gank adalah salah satu bentuk dari adanya kebutuhan aktualisasi diri. Kaum remaja ingin diakui orang, ingin dihargai dan menjadi bagian dari suatu komunitas. Dengan kata lain, remaja bergabung menjadi anggota komunitas suatu gank karena untuk mendapatkan perlindungan dan menunjukkan kesetiaan yang kuat terhadap organisasi kepada masyarakat luar serta melindungi kelompok mereka.

Namun sayangnya, dalam pengimplementasiannya banyak terjadi penyelewengan yang sudah off track dari niat awal dibentuknya group atau gank tersebut. Hingga tanpa sepengetahuan orang dewasa, jadilah aksi brutal dengan alasan solidaritas membela teman gank.

Seperti yang dinyatakan oleh Ballantine sebelumnya, sebagian besar gank pelajar terbentuk dari kehidupan remaja yang salah, mempunyai masalah di sekolah, atau bahkan kadang-kadang berasal dari lingkungan yang tidak berintegrasi dengan lingkungan masyarakat.

Senada dengan hal itu, Tanje (2008) menjelaskan tentang beberapa hal yang melatarbelakangi kenakalan remaja, diantaranya adalah kehidupan keluarga yang kering, terpecah-pecah (broken home), dan tidak harmonis yang akan menyebabkan anak tidak kerasan tinggal di rumah dan tidak merasa aman serta tidak mengalami perkembangan emosional yang seimbang.

Faktor kedua adalah kurangnya pembinaan moral yang nyata dan pudarnya keteladanan nyata dari orang tua, guru di sekolah, dan tokoh-tokoh panutan di masyarakat yang akan memberikan pengaruh yang besar kepada sikap, perilaku dan moralitas remaja di sekolah. Pendidikan di sekolahpun terkadang terjerumus pada formalitas pemenuhan kurikulum pendidikan, mengejar bahan ajaran sehingga melupakan segi pembinaan kepribadian, penanaman nilai-nilai pendidikan moral dan pembentukan sikap.

Kurangnya dukungan kehidupan sosial ekonomi keluarga dan masyarakat terhadap optimalisasi perkembangan remaja merupakan faktor ketiga. Hal lain yang menjadi latar belakang munculnya gank pelajar adalah pengaruh tayangan media massa baik cetak maupun elektronik yang acapkali menonjolkan unsur kekerasan dan diwarnai oleh berbagai aksi  kebrutalan.

2.      Sumber Kekerasan di Kalangan Pelajar

Seto Mulyadi (2008) mensinyalir bahwa sumber kekerasan yang terjadi di kalangan remaja sehingga terbentuk berbagai kelompok remaja atau gank adalah sebagai berikut:

a.       Adanya paradigma yang salah dalam mendidik anak baik pada keluarga dan sekolah. Banyak orang yang beranggapan bahwa dengan melakukan tindakan keras seperti menjewer, memukul, mencubit bisa menekankan disiplin pada anak. Justru perilaku kekerasan itu akan terus berkembang di dalam diri anak dan dianggap biasa. Alhasil, kepada temannyapun dia melakukan kekerasan serupa atau lebih.

b.      Akibat pengaruh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam waktu yang sangat singkat, informasi-informasi tentang peristiwa-peristiwa, pesan, pendapat, berita, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya dengan mudah diterima oleh masyarakat sehingga media massa – surat kabar, TV, film, radio, majalah dan lainnya – mempunyai peranan penting dalam proses transformasi nilai-nilai dan norma-norma baru kepada masyarakat. Media massa, terutama media TV juga mempunyai peranan dalam membentuk kebiasaan melakukan kekerasan. Tayangan berita berisi adegan kekerasan dan adegan yang menjurus ke pornografi direkam sangat baik oleh remaja dan anak-anak. Mereka akan menganggap bahwa itu semua wajar dilakukan dan merasa layak melakukan hal serupa. Hal inilah yang menyulut perilaku agresif remaja dan mengakibatkan terjadinya pergeseran moral pergaulan serta meningkatkan terjadinya berbagai pelanggaran norma susila.

c.       Krisis ekonomi juga menjadi salah satu faktor di mana pemenuhan kebutuhan remaja dirasa kurang.  Namun, ditengarai faktor ini bukanlah dominan karena banyak pula kenakalan remaja muncul dari kalangan remaja yang berasal dari keluarga mampu.

3.      Dampak Terbentuknya Gank Pelajar

Di dalam membahas tentang “gangs at schools”, Burnett dan Walz dalam Jeanne H. Ballantine (2001:196) menjelaskan sebagai berikut:

What do gang members do? Many gangs are involved in serious and violent crimes. Twenty eight percent of the gangs were organized specifically for trafficking in drugs; other gangs committed assaults and robberies, sometimes along with drug activities. Fighting, stealing, alcohol dealing, and drug dealing leads to power and respect from other gang members.

How do gangs affect schools? In fact, the number of gang members in schools is usually fairly small, but the gang presence can be quite disruptive, bringing into schools fear, violence, drugs and recruitment for gangs.

 

 

Dari pernyataan di atas, jelaslah bahwa perilaku yang diperlihatkan oleh para anggota gank remaja lebih banyak condong pada tindakan kriminal yang mengganggu dan bersifat serius. Banyak diantara mereka yang terlibat dalam penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan narkoba serta tidak sedikit yang terlibat perampokan bahkan pembunuhan selain tawuran (perkelahian), minum minuman keras dan mencuri.

Sebenarnya dilihat dari sisi jumlah mereka yang relatif  kecil, tidaklah imbang dengan jumlah siswa secara keseluruhan. Namun, keberadaan mereka  bisa meresahkan atau bahkan mengganggu sehingga menimbulkan keresahan, ketakutan, keributan, kriminalitas, atau bahkan perekrutan anggota gank baru. Tidak hanya di kalangan sekolah, keresahan dan ketakutan itu bisa merebak sampai ke masyarakat luas.

 

4.      Solusi Terhadap Maraknya Gank Pelajar

Permasalahan maraknya gank remaja decade ini jika tidak segera dicarikan solusinya, maka kebiasaan melakukan tindak kekerasan itu bisa terbawa hingga dewasa. Bukan tidak mungkin kelak mereka yang terbiasa dengan tindakan kekerasan sejak kecil dan remaja ini akan terus melakukan kekerasan sampai mereka menjadi orang tua dan menurunkan kepada anak-anaknya sehingga bisa dibayangkan generasi macam apa yang akan terbentuk di masa mendatang.

Di dalam perkembangan remaja yang sedang mencari identitas dan eksistensi diri dalam kehidupan bermasyarakat, diperlukan peran serta aktif dari berbagai pihak dalam melancarkan pencapaian kepribadian yang dewasa bagi para remaja. Berikut ini adalah beberapa langkah yang bisa ditempuh dalam mencegah terbentuknya gank remaja lebih banyak lagi, yaitu dengan:

  1. Mengubah paradigma yang salah dalam keluarga dan sekolah bahwa kekerasan adalah salah satu bentuk pendidikan disiplin pada anak.
  2. Memberikan kesempatan untuk mengadakan dialog untuk menyiapkan jalan bagi tindakan bersama baik antara remaja dengan orang tua, pendidik di sekolah dan masyarakat.
  3. Pemerintah harus tegas kepada media, sensor pada adegan kekerasan di TV dan media lain. Komite Penyiaran Indonesia (KPI) harus lebih tajam.
  4. Intensitas sosialisasi berupa kampanye, pidato dan talkshow bahwa tindakan kekerasan pada anak-anak harus dihentikan perlu lebih ditingkatkan.
  5. Perlunya peninjauan kembali untuk memberikan pendidikan budi pekerti atau pendidikan karakter di sekolah karena disinyalir sekolah lebih mengutamakan aspek kognitif saja dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Moralitas sangatlah penting ditumbuhkan dalam diri setiap anak. Hal ini perlu dipertimbangkan mengingat di tengah kebangkrutan moral bangsa, maraknya tindak kekerasan, inkoherensi politisi atas retorika politik dan perilaku keseharian maka pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-religius menjadi relevan untuk diterapkan.

 

III. KESIMPULAN

Fenomena maraknya komunitas gank pelajar/remaja dewasa ini disebabkan karena kehidupan keluarga yang kering, terpecah-pecah (broken home) dan tidak harmonis yang akan menyebabkan anak tidak kerasan tinggal di rumah dan tidak merasa aman serta tidak mengalami perkembangan emosional yang seimbang. Selain itu, kurangnya pembinaan moral yang nyata dan pudarnya keteladanan nyata dari orang tua, guru di sekolah, dan tokoh-tokoh panutan di masyarakat yang akan memberikan pengaruh yang besar kepada sikap, perilaku dan moralitas remaja, serta kurangnya dukungan kehidupan sosial ekonomi keluarga dan masyarakat terhadap optimalisasi perkembangan remaja.

Adapun yang menjadi sumber dari terbentuknya gank tersebut adalah adanya paradigma yang salah dalam mendidik anak baik pada keluarga dan sekolah, pengaruh media massa, terutama media TV yang mempunyai peranan dalam membentuk kebiasaan melakukan kekerasan, serta krisis ekonomi yang juga menjadi salah satu faktor di mana pemenuhan kebutuhan remaja dirasa kurang.

Dampak dari munculnya gank-gank tersebut adalah bahwa dengan keberadaan mereka di sekolah maupun di kalangan masyarakat dapat meresahkan atau bahkan mengganggu sehingga menimbulkan keresahan, ketakutan, keributan, kriminalitas, atau bahkan perekrutan anggota gank baru. Tidak hanya di kalangan sekolah, keresahan dan ketakutan itu bisa merebak sampai ke masyarakat luas.

Jalan keluar bagi pemecahan permasalahan maraknya gank pelajar adalah dengan:

1.      Mengubah paradigma yang salah dalam keluarga dan sekolah bahwa kekerasan adalah salah satu bentuk pendidikan disiplin pada anak.

2.      Memberikan kesempatan untuk mengadakan dialog untuk menyiapkan jalan bagi tindakan bersama baik antara remaja dengan orang tua, pendidik di sekolah dan masyarakat.

3.      Pemerintah harus tegas kepada media, sensor pada adegan kekerasan di TV dan media lain. Komite Penyiaran Indonesia (KPI) harus lebih tajam.

4.      Intensitas sosialisasi berupa kampanye, pidato dan talkshow bahwa tindakan kekerasan pada anak-anak harus dihentikan perlu lebih ditingkatkan.

5.      Perlunya peninjauan kembali untuk memberikan pendidikan budi pekerti atau pendidikan karakter di sekolah

Iklan


MELEJITKAN POTENSI KECERDASAN ANAK USIA DINI
Desember 12, 2008, 9:18 pm
Filed under: Uncategorized

ABSTRAK:

Tidak ada orang tua di dunia ini yang menginginkan anaknya terlahir menjadi sosok yang buruk dalam berkepribadian serta tumpul dalam berpikir. Oleh karena itu, pendidikan anak sejak usia dini sangatlah dibutuhkan. Dalam masa “the golden age” ini, stimulus yang baik dan tepat sangat dibutuhkan agar anak bisa tumbuh dan berkembang sesuai dambaan dan harapan orang tuanya. Namun, dewasa ini disinyalir masih banyak lembaga  PAUD yang dalam proses pembelajarannya hanya menjejali anak didik dengan hafalan-hafalan atau sekedar pengetahuan akademik saja tanpa memperhatikan kebutuhan dasar anak itu sendiri,  yaitu kebutuhan akan dunianya, dunia bermain. Untuk itu diperlukan suatu pendekatan yang sesuai dengan dunia anak dalam pembelajaran di PAUD. Pendekatan BCCT (Beyond Centers and Circle Time) atau dikenal dengan SELING (Sentra dan Lingkaran) bisa menjadi salah satu alternatif. Seling bermuara dari dunia anak, yaitu belajar sambil bermain dengan benda-benda dan orang-orang di sekitarnya (lingkungan). Pembelajaran berbasis Sentra dan Lingkaran ini merupakan konsep belajar di mana para guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Selain itu, Seling bisa dimodifikasi sesuai dengan situasi dan kondisi setempat. Tidak perlu peralatan atau APE (Alat Permainan Edukatif) yang mahal karena bisa disesuaikan dengan lingkungan dan bisa menggunakan benda-benda yang ada di sekitar. PAUD berbasis lingkungan juga bisa dikelola dengan pendekatan ini. Tentu saja, pendekatan ini bisa menekan biaya sehingga akan memungkinkan pula munculnya pendidikan yang terjangkau namun tetap menjaga kualitas.

 

Kata Kunci : Pendidikan Anak Usia Dini, Potensi, Sentra, Lingkaran, Lingkungan,

 

I. Pendahuluan

A. Latar Belakang

            Anak merupakan dambaan bagi setiap orang tua. Sebagai harapan orang tua, anak selalu diharapkan memiliki masa depan yang jauh lebih baik dari kedua orang tuanya. Meskipun setiap orang tua memiliki harapan untuk menciptakan anak yang baik dan sholeh, namun tidak setiap orang tua memahami cara mendidik anak yang baik. Harapan orang tua untuk menciptakan generasi yang sholeh, generasi yang cerdas dan berakhlak baik ini telah mendorong kesadaran orang tua untuk mendidik anak sejak usia dini.

            Pentingnya mendidik anak sejak usia dini dikarenakan masa anak-anak merupakan  the golden age (masa emas) yang tidak boleh disia-siakan. Sebab, ini merupakan kesempatan luar biasa untuk mengembangkan semua potensi anak. 

            Penelitian di bidang neurologi menyebutkan bahwa selama tahun-tahun pertama, otak bayi berkembang pesat dan menghasilkan neutron yang jumlahnya melebihi kebutuhan. Sambungan tersebut harus diperkuat dengan berbagai rangsangan. Sebab, kalau tidak, sambungan itu akan mengalami atrohy (menyusut dan musnah). Banyaknya sambungan inilah yang mempengaruhi kecerdasan anak. Dosis rangsangan yang seimbang dan tepat akan mampu melipatgandakan kemampuan otak sebanyak 5 – 10 kali lipat (Suara Merdeka, 31 Mei 2008).

Masa inilah masa yang paling peka terhadap pengaruh dari luar individu anak. Anak ibarat kertas putih bersih, tinggal lingkungannya yang akan menggores kepribadian anak tersebut akan menjadi apa.  Dengan kata lain, pada masa ini pula menjadi masa yang strategis dan kritis. Dikatakan strategis karena pada masa ini anak memperoleh stimulan dan pembelajaran yang memungkinkan anak dikondisikan untuk memperoleh keberhasilan dalam kehidupannya. Namun, dikatakan masa kritis karena jika terjadi salah dalam pola asuhnya, maka anak tidak memperoleh stimulan dan perlakuan yang tepat sehingga perkembangan anak pada masa selanjutnya akan mengalami gangguan. Dengan demikian jelas bahwa pendidikan anak usia dini merupakan suatu kebutuhan yang sangat penting baik bagi orang tua maupun anak itu sendiri.

            Seiring dengan kebutuhan orang tua untuk mendidik anak sejak dini, sekarang ini telah banyak bermunculan lembaga pendidikan bagi anak usia dini di Indonesia. Lembaga pendidikan non formal ini paling tidak mengemban fungsi melejitkan seluruh potensi kecerdasan anak, penanaman nilai-nilai dasar dan pengembangan kemampuan dasar. Sehingga, penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) memerlukan pendekatan yang tepat agar dapat mengoptimalkan seluruh potensi yang dimiliki anak, terutama dalam “melejitkan” seluruh potensi kecerdasan anak.

            Namun dalam pengelolaan PAUD, trend untuk menjejali anak dengan pengetahuan-pengetahuan  akademik menjadi bagian yang tak terpisahkan. Tidak hanya di Indonesia, di Amerika Serikatpun trend untuk memasukkan pengetahuan akademik lebih menonjol, seperti yang dinyatakan oleh Lisa S. Goldstein dalam Journal of Research in Childhood Education (2007) sebagai berikut:

                        The purposes of kindergarten have been changing rapidly in the United States.

                Kindergarten teachers are facing many new demands; in addition to meeting

children’s needs across all developmental domains, they must also move

their young students toward mastery of a variety of mandated academic skills.

 

 Terlepas dari misi pendidikan yang dikembangkan, dalam prakteknya lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ini muncul sebagai jawaban atas kebutuhan pasar. Dengan prinsip kebutuhan pasar, seringkali orang yang membutuhkan harus membayar dengan biaya yang mahal. Bahkan, Direktur PAUD Ditjen PNFI Depdiknas, Gautama, menyatakan bahwa selama ini banyak lembaga PAUD yang salah dalam memperlakukan anak didiknya. Mereka lupa bahwa dunia anak adalah dunia bermain (Al Azhar : 2008).

            Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa penyelenggaraan PAUD masih belum mengacu betul dengan tahap-tahap perkembangan anak. Pada umumnya penyelenggaraan PAUD difokuskan pada peningkatan kemampuan akademik saja, baik dalam hal hafalan-hafalan maupun kemampuan baca-tulis-hitung, yang prosesnya seringkali mengabaikan tahapan perkembangan anak. Selain itu, fakta lain berbicara bahwa masih banyak anak usia dini yang terabaikan. Menurut data dari Depdiknas, sampai saat ini diperkirakan baru 43% yang terlayani, dan golongan ekonomi lemahlah yang paling banyak belum tersentuh.

 

B. Permasalahan

Dari kenyataan di atas, muncul pertanyaan-pertanyaan: Bagaimanakah upaya mengoptimalkan seluruh potensi anak usia dini sesuai tahap perkembangannya, serta bagaimana pula mengupayakan Pendidikan Anak Usia Dini yang tidak mahal namun tetap berkualitas?

 

C. Tujuan

            Tujuan dari tulisan ini adalah memberikan sumbangan pemikiran bagi peningkatan mutu Pendidikan Anak Usia Dini, terutama ditujukan kepada para pengelola PAUD, praktisi pendidikan, serta pihak-pihak yang terkait dengan bidang kependidikan.

 

II. Seputar Dunia Anak

A. Anak Sebagai Pembelajar yang Aktif

Di dalam The Journal Of Childhood Education (2006) dinyatakan bahwa kita sebaiknya membiarkan apa yang bisa dikerjakan oleh anak sendiri dan biarkan mereka berpikir sesuai dengan alam pikir mereka.

            Di dalam jurnal tersebut juga digambarkan bagaimana pemerintah China memperhatikan dan menekankan bagaimana pentingnya memahami kepribadian anak dan menghormati hak-haknya untuk meningkatkan tumbuh kembang individu anak tersebut. Pandangan tersebut senada dengan konsep tentang anak di dunia Barat kontemporer, seperti yang dinyatakan sebagai berikut:

            The contemporary view of the child in China recognizes the rights

of children, the values of childhood as an important phase for children, and

the potentials of children in learning and development (Ministry of Education,

2001a). For example, the Ministry of Education’s draft guidelines of the

Kindergarten Education Guidance Outlines (Ministry of Education,  2001a)

emphasize the importance of respecting children’s personalities and rights

 in order  to promote each child’s individual development. This view is

consistent with the concept of the child in the contemporary Western

world, where the view of the child has been transferred from “naive, innocent,

incompetent, and redemptive,” largely dependent on adults, to “rich [in]

potential, competent, and independent,” with his/her own rights to live, play,

 learn, and  develop (Moss & Petrie, 2002).

 

 Dalam pernyataan tersebut jelas dinyatakan bahwa pandangan tentang anak dari sosok yang naif, tidak berdosa, tidak mempunyai kemampuan berubah menjadi pandangan anak sebagai sosok yang sangat berpotensi, penuh dengan kemampuan serta mandiri dengan hak-haknya untuk hidup, bermain, belajar dan tumbuh berkembang.

Dalam pandangan ini, anak dilihat sebagai sosok yang aktif, bukan lagi sosok yang hanya tergantung pada orang dewasa.

 

B. Pelanjut Bangsa

            Dari sisi sumber daya manusia, anak adalah seorang generasi penerus keberlanjutan suatu bangsa dan kelompok strategis yang harus diperhatikan agar mereka dapat hidup tumbuh dan berkembang mencapai kedewasaan sampai mereka berumur 18 tahun. Abdillah (2007) menyatakan bahwa saat ini dengan jumlah sekitar 68 juta atau 30 persen penduduk adalah mereka yang berusia sebelum 18 tahun yang sangat memerlukan perhatian yang tidak sekadar tertuang dalam bentuk peringatan rutin tahunan Hari Anak Nasional.

            Dalam hal ini, mereka para pelanjut bangsa ini sangat mengharapkan bahwa orang tua atau bapak bangsa di Indonesia memiliki rasa kemanusiaan, hingga nasib mereka tidak terhijabi oleh mahalnya biaya sekolah, carut-marut perekonomian negeri dan merajalelanya ketidakpenghargaan terhadap kejujuran dalam tubuh birokrat. Kunci utama untuk menjadikan anak sebagai potensi negara dalam rangka keberlangsungan kehidupan dan kejayaan bangsa adalah bagaimana komitmen pemerintah untuk menjadikan anak sebagai prioritas utama dalam pembangunan.

            Upaya yang perlu dilakukan adalah dengan menciptakan lingkungan yang mengutamakan perlindungan bagi anak, menghidupkan nilai-nilai dan tradisi yang memajukan harkat dan martabat anak, mngeksplorasi dan memobilisasi sumber daya untuk mendukung penyelenggaraan perlindungan anak.

 

 C. Anak Usia Dini

            Sebelum dibicarakan tentang pendidikannya, terlebih dahulu akan dibahas tentang anak usia dini. Di Indonesia, menurut Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional, anak usia dini adalah kelompok manusia berusia 0 – 6 tahun.

Mansur (2007 : 88) mendefinisikan anak usia dini sebagai kelompok anak yang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan yang bersifat unik, dalam arti memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan (koordinasi motorik halus dan kasar), intelegensi (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, dan kecerdasan spiritual), sosial emosional (sikap dan perilaku serta agama), bahasa dan komunikasi yang khusus sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak.

            Berdasarkan keunikan dalam pertumbuhan dan perkembangan, anak usia dini terbagi dalam tiga tahapan, yaitu (a) masa bayi lahir sampai 12 bulan, (b) masa toddler (batita) usia 1 – 3 tahun, (c) masa prasekolah usia 3 – 6 tahun. Pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini perlu diarahkan pada peletakan dasar-dasar yang tepat bagi pertumbuhan dan perkembangan manusia seutuhnya, yaitu pertumbuhan dan perkembangan fisik, daya pikir, daya cipta, sosial emosional, bahasa dan komunikasi yang seimbang sebagai dasar pembentukan pribadi yang utuh.

 

D. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

            Pada Pasal 1 Bab I Ketentuan Umum UU Nomor 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai denagn usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

            Selanjutnya, dalam Pasal 28 dijelaskan tentang Pendidikan Anak Usia Dini sebagai berikut:       

                        “(1) Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang

pendidikan dasar; (2) Pendidikan anak usia dini  dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, non formal dan/atau informal; (3) Pendidikan anak usia dini pada jalur  pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), raudatul athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat; (4) Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan non formal berbentuk Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat; (5) Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan  oleh lingkungan; (6) Ketentuan mengenai pendidikan anak usia dini sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3) dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.”

 

                Mansur (2007) menjelaskan bahwa PAUD adalah suatu proses pembinaan tumbuh kembang anak usia lahir hingga enam tahun secara menyeluruh, yang mencakup aspek fisik dan non fisik, dengan memberikan rangsangan bagi perkembangan jasmani, rohani (moral dan spiritual), motorik, akal pikir, emosional, dan sosial yang tepat agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

Dengan demikian, PAUD dapat dideskripsikan sebagai berikut:

1)      Pemberian upaya untuk menstimulasi, membimbing, mengasuh, dan pemberian kegiatan pembelajaran yang akan menghasilkan kemampuan dan keterampilan pada anak.

2)      PAUD merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, dan kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap perilaku serta agama), bahasa dan komunikasi.

3)      Sesuai dengan keunikan dan pertumbuhan anak, PAUD disesuaikan dengan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.

Program PAUD tidak dimaksudkan untuk mencuri start apa-apa yang seharusnya diperoleh pada jenjang pendidikan dasar, melainkan untuk memberikan fasilitasi pendidikan yang sesuai bagi anak, agar anak pada saatnya memiliki kesiapan baik secara fisik, mental maupun sosial/emosionalnya dalam rangka memasuki pendidikan lebih lanjut.

 

E. Proses Pembelajaran Anak Usia Dini

Pusat  Kurikulum   Balitbang  Depdiknas   mendefinisikan  pembelajaran  anak  usia  dini

sebagai berikut:

1)      Proses pembelajaran bagi anak usia dini adalah proses interaksi antar anak, sumber belajar, dan pendidikan dalam suatu lingkungan belajar tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

2)      Sesuai dengan karakteristik anak usia dini yang bersifat aktif   melakukan berbagai eksplorasi dalam kegiatan bermain, maka proses pembelajarannya ditekankan pada aktivitas anak dalam bentuk belajar sambil bermain.

3)      Belajar sambil bermain ditekankan pada pengembangan potensi di bidang fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, dan kecerdasan spiritual), sosio-emosional (sikap perilaku serta agama), bahasa dankomunikasi menjadi kompetensi atau kemampuan yang secara aktual dimiliki anak.

4)      Penyelenggaraan pembelajaran bagi anak usia dini perlu diberikan rasa aman bagi anak usia tersebut.

5)      Sesuai dengan sifat perkembangan anak usia dini, proses pembelajarannya dilaksanakan secara terpadu.

6)      Proses pembelajaran akan terjadi apabila anak secara aktif berinteraksi dengan lingkungan belajar yang diatur pendidikan.

7)      Program belajar mengajar dirancang dan dilaksanakan sebagai suatu sistem yang dapat menciptakan kondisi yang menggugah dan memberi kemudahan bagi anak usia dini  untuk belajar sambil bermain melalui berbagai aktivitas yang bersifat konkret, dan yang sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan serta kehidupan anak usia dini.

8)      Keberhasilan proses pembelajaran ditandai dengan pencapaian pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini secara optimal dan mampu menjadi jembatan bagi anak usia dini untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan perkembangan selanjutnya.

Dari beberapa pemahaman di atas, penting bagi semua pihak untuk memahami bagaimana upaya untuk mendidik anak sejak usia dini dengan berlandaskan pemahaman yang benar, yang tidak hanya menjejali anak-anak yang tidak berdosa tersebut hanya dengan kemampuan akademik saja dan melupakan dunia mereka, dunia bermain.

Mansur (2007) menjelaskan beberapa strategi dalam mendidik anak usia dini, yaitu:    (1) Mengidentifikasikan serta menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku dan kepribadian anak usia dini sebagaimana yang diharapkan, (2) Memilih sistem pendekatan mendidik anak usia dini  berdasarkan pandangan hidup, (3) Memilih dan menetapkan prosedur yang tepat, dan (4) Menetapkan norma-norma dan batas minimal keberhasilan atau kriteria serta standar keberhasilan sehingga dapat dijadikan pedoman oleh orang tua atau pendidik dalam melakukan evaluasi yang selanjutnya akan dijadikan umpan balik buat penyempurnaan.

Dengan permasalahan tersebut sebelumnya di atas, maka perlu diadakan suatu pendekatan dalam pengelolaan PAUD. Pendekatan tersebut tentu saja merupakan pendekatan yang bermuara dari dunia anak, yaitu belajar sambil bermain dengan benda-benda dan orang-orang di sekitarnya (lingkungan). Pengalaman bermain yang tepat dapat mengoptimalkan seluruh aspek perkembangan anak, baik fisik, emosi, kognisi maupun sosial anak.

 

 

 

 

F. Mengajar dengan Sentra dan Lingkaran (SELING)

1. Sekilas tentang SELING

            Pendidikan anak usia dini merupakan pendidikan yang sangat mendasar. Hal ini dikarenakan masa usia dini merupakan masa emas perkembangan anak, yang apabila pada masa tersebut anak diberikan stimulasi yang tepat akan menjadi modal penting bagi perkembangan anak di kemudian waktu. Dalam hal ini, pendidikan anak usia dini paling tidak mengemban fungsi melejitkan seluruh potensi kecerdasan anak, penanaman nilai-nilai dasar dan pengembangan kemampuan dasar. Untuk memerankan fungsi tersebut dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, diantaranya adalah pendekatan “Beyond Centers and Circle Time” (BCCT) atau pendekatan “Sentra dan Lingkaran”.

Dalam dunia pendidikan anak pra-sekolah saat sekarang ini, pendekatan Sentra dan Lingkaran (SELING) atau juga disebut BCCT (Beyond Centers and Circle Time) muncul sebagai sebuah pendekatan yang mulai ngetrend di Indonesia.  Awalnya, BCCT dikembangkan oleh Creative Center for Chilhood Research and Training di Florida USA dan dilaksanakan di Creative Pre school Florida selama lebih dari 25 tahun.

Ditilik dari maknanya, pendekatan Sentra dan Lingkaran adalah pendekatan penyelenggaraan PAUD yang berfokus pada anak yang dalam proses pembelajarannya berpusat di sentra main dan saat anak dalam lingkaran dengan menggunakan 4 jenis pijakan (scaffolding) untuk mendukung perkembangan anak. Pijakan adalah dukungan yang berubah-ubah yang disesuaikan dengan perkembangan yang dicapai anak yang diberikan sebagai pijakan untuk mencapai perkembangan yang lebih tinggi (Winanti, 2008).

Sentra main adalah zona atau area main anak yang dilengkapi dengan seperangkat alat main yang berfungsi sebagai pijakan lingkungan yang diperlukan untuk mendukung perkembangan anak dalam 3 jenis main yaitu main sensorimotor atau fungsional, main peran dan main pengembangan. Saat lingkaran adalah saat dimana pendidik duduk bersama anak dengan posisi melingkar untuk memberikan pijakan kepada anak yang dilakukan sebelum atau sesudah main.

Pembelajaran berbasis Sentra dan Lingkaran ini merupakan konsep belajar di mana para guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dengan diterapkannya pendekatan Seling ini, anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan “alamiah” dan belajar akan lebih bermakna jika anak “mengalami” apa yang dipelajari bukan sekedar mengetahui. Dengan kata lain, ”student learns best by actively constructing their own understanding” (cara belajar terbaik adalah siswa mengkonstruksikan sendiri pengalamannya). Landasan filosofi dalam Seling adalah “Konstruktivisme”, yakni filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak sekedar menghafal. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Bahwa pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta yang terpisah namun mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan.

Banyak keunggulan atau manfaat yang bisa diperoleh dengan pendekatan ini, diantaranya merangsang seluruh aspek kecerdasan anak (kecerdasan jamak), merangsang anak untuk aktif, kreatif dan terus berfikir dengan menggali pengalamannya sendiri dan tentu saja  dari sisi pendidik mereka akan menjadi fasilitator, motivator dan evaluator yang kreatif. Selain itu, dalam proses pembelajarannya tanpa terasa anak akan belajar meskipun dengan nuansa permainan. Dengan istilah lain, belajar sambil bermain. 

Lebih dari  itu, BCCT atau Seling juga merupakan pendekatan pembelajaran yang menggunakan konsep “anak adalah unik”, karena bila dilakukan pendidikan pada anak usia dini, misalnya 20 anak, maka akan menghasilkan 20 hasil karya yang berbeda meskipun dengan bahan ajar yang digunakan sama (Al Azhar : 2008).

 

2. Penerapan Seling di dalam Kelas

            Metode Seling dirancang dalam bentuk sentra-sentra, misalnya sentra alam, sentra bermain peran, sentra rancang bangun, sentra persiapan, sentra imtaq, sentra seni dan kreatifitas, sentra musik dan olah tubuh, sentra IT, dll. Dalam pelaksanaannya, setiap guru bertanggung jawab pada sekitar 7-12 murid dengan moving class sesuai dengan sentra gilirannya.

            Untuk menerapkan metode ini, guru hendaknya mengikuti pijakan-pijakan guna membentuk keberaturan antara bermain dan belajar. Berikut ini adalah pijakan-pijakan yang harus diikuti:

 

§         Pijakan lingkungan

Guru menata lingkungan yang disesuaikan dengan intensitas dan densitas

§         Pijakan sebelum bermain

Guru  meminta  siswa  untuk  membentuk  lingkaran.  Guru  ada  diantara  siswa  sambil

bernyanyi. Guru meminta para siswa duduk melingkar. Guru meminta para siswa berdoa bersama. Guru menanyakan para siswa kesiapan mendengar cerita dan memasuki sentra. Guru memulai bercerita menggunakan media yang sesuai dengan tema. Guru menginformasikan jenis mainan yang ada dan menyampaikan aturan bermain. Guru meminta siswa masuk ke area sentra.

§         Pijakan saat bermain

Guru mempersiapkan catatan perkembangan siswa. Guru mencatat perilaku, kemampuan dan celetukan siswa. Guru membantu siswa jika dibutuhkan. Guru mengingatkan siswa bila ada yang lupa atau melanggar aturan.

§         Pijakan setelah bermain/recalling

Guru meminta siswa untuk membereskan mainan dan alat yang dipakai. Guru meminta siswa menceritakan pengalaman bermainnya sambil menghitung jumlah kegiatan yang dilakukan. Guru menutup kegiatan dengan berdoa bersama. Guru membagikan buku komunikasi (buku penghubung dengan orang tua) sebelum pulang (Direktorat PAUD : 2006).

 

Dari hal-hal tersebut di atas, dalam pendekatan berbasis Sentra dan Lingkaran ini, terlihat bahwa anak diberi kesempatan untuk bermain secara aktif dan  kreatif di sentra-sentra pembelajaran yang tersedia guna mengembangkan dirinya seoptimal mungkin sesuai dengan potensi dan minat masing-masing. Dengan kata lain, pendekatan ini juga memperlihatkan kepada semua orang akan pentingnya bermain sensorimotor, bermain peran, dan bermain pembangunan sampai munculnya keaksaraan. Sehingga para pendidik PAUD, pengelola dan tenaga kependidikan lainnya serta para orang tua dapat mempelajari dan mencoba menerapkan pendekatan BCCT tersebut untuk mewujudkan proses pembelajaran yang menyenangkan, mengasyikkan dan mencerdaskan.       

            Dalam pelaksanaannya, pendekatan ini tidak memerlukan peralatan yang rumit dan banyak, tidak juga APE (Alat Permainan Edukatif) yang mahal. Semua bisa disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat sesuai lingkungan dimana anak tersebut berada, dengan benda-benda yang biasa mereka lihat. Sehingga, dapat ditarik kesimpulan bahwa penerapan pendekatan ini bisa dilaksanakan oleh PAUD di manapun dan di kalangan apapun bahkan sampai di kalangan menengah ke bawah yang nota bene memerlukan pendidikan yang tidak mahal namun tetap berkualitas.

            Namun, bukan berarti dengan menggunakan pendekatan ini dalam proses pembelajaran, para pengelola PAUD akan melupakan penanaman nilai-nilai moral pada anak. Kegiatan penanaman nilai moral anak bisa dilaksanakan ketika anak berada dalam lingkaran, sentra dan pijakan bahkan ketika mereka akan pulang. Bagaimanapun, kegiatan ini tidak boleh terlepas dalam pendidikan anak usia dini, karena dari sinilah akan muncul kepribadian anak seperti yang diharapkan oleh semua pihak.

 

G. PAUD Berbasis Lingkungan

            Dalam masa yang serba sulit ini, bukan hal yang mustahil jika memimpikan pendidikan anak usia dini yang murah namun tetap bermutu. Selain dengan pendekatan Seling, PAUD berbasis Lingkungan bisa dijadikan alternatif dalam mendidik anak. Back to nature, kata orang. Sutarno (2008) menyatakan bahwa  dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sarana dan sumber belajar, niscaya akan mampu menekan biaya. Lingkungan sekitar kita seperti tumbuhan dan hewan adalah media yang efektif dan efisien dan tentu saja murah, yang tidak perlu kita beli dengan harga yang selangit.

            PAUD berbasis lingkungan bisa menjadi alternatif, karena dewasa ini banyak pengelola PAUD dan bahkan orang tua yang berlomba-lomba membeli APE (Alat Permainan Edukatif) dari luar negeri yang tentu saja harganya pasti tidak murah namun cenderung membentuk jiwa yang egoistis karena umumnya dimainkan secara individual. Padahal, kalau kita mau kembali ke alam lingkungan kita, banyak alternatif permainan tradisional yang mampu menggantikan APE import tersebut.

Lingkungan alam, misalnya tanah, pasir, tanah liat, bisa dijadikan alat untuk mengembangkan motorik halus dengan membuat guratan-guratan garis, atau membentuk benda dan bentuk sesuai keinginan anak dengan tanah liat sebagai ganti plastisin

Coba kita cermati bagaimana asyiknya anak ketika mereka bermain dengan air, yang nota bene merupakan zat ciptaan Tuhan yang murah, meriah dan gampang dicari. Dengan memodifikasi air dengan peralatan lain di sekitar kita, misalnya botol plastik, corong, pewarna kue, sabun cair, anak bisa melakukan kegiatan bermain di sentra dengan berbagai kegiatan seperti mengocok air yang bisa melatih kekuatan tangan untuk bekal menulis, menakar air dimana anak bisa belajar matematika serta banyak kegiatan lain yang bisa dinikmati anak dengan belajar sambil bermain dengan air. Dengan demikian, anak dapat melatih keterampilan motorik kasar dan halus serta mendapatkan banyak pengetahuan saat bermain air.

Bahkan biji-bijian seperti kacang tanah, kedelai, biji jagung juga bisa dijadikan sumber belajar yang murah bagi pembelajaran anak. Kegiatan yang bisa dilakukan di sekolah misalnya adalah dengan menggunakan biji beras, kacang-kacangan berbagai jenis, pasir, wadah plastik, corong, sendok plastik, serta benda-benda lainnya dalam kegiatan di sentra. Kegiatan yang bisa dilakukan adalah menakar, menjepit biji-bijian untuk dikelompokkan, menempel biji-bijian serta kegiatan mengasyikkan lainnya.  Tak kalah asyiknya adalah kegiatan meronce. Kegiatan inipun  bisa menggunakan bahan alam yang tersedia di sekitar kita seperti misalnya potongan bambu kecil, pelepah batang padi, pelepah batang daun pepaya, pelepah daun pisang, manik-manik alam yang berupa biji nangka, biji salak, biji pala, dan biji-bijian lainnya. Dengan kegiatan penataan main bahan alam akan membantu anak belajar banyak hal diantaranya belajar matematika, sosial, sensori motorik, bahasa dan kemampuan lainnya.

Tak kalah dengan itu, permainan tradisional seperti petak umpet, lompat tali bahkan bermain di pematang sawah atau selokan air di sekitar anak juga bisa digunakan untuk sarana mengembangkan kemampuan motorik kasar anak tanpa harus dengan flying fox atau jenis outbond lainnya yang menyedot banyak dana dari kantong.   

 

III. Penutup

            Anak adalah mustika atau mutiara yang sering kita cari untuk dijadikan tumpuan harapan atas membaiknya Indonesia ke depan. Negara Indonesia sangat membutuhkan kehadiran pemimpin yang peduli terhadap anak. Sebab, eksistensi kader masa depan pemimpin bangsa berasal dari anak. Dapat diibaratkan bahwa kegagalan dalam mengelola anak berarti pula  gagalnya sebuah generasi penerus bangsa.

            Jika saja kita (orang tua, pejabat pemerintah dan pendidik) mau memusatkan perhatian pada anak-anak kita, indah rasanya kalau kasih sayang keluarga, kebijakan pemerintahan, dan cara serta biaya pendidikan memihak anak tanpa pandang bulu.

 

Kesimpulan

            Berdasarkan uraian di atas, ada beberapa kesimpulan yang dapat dikemukakan di bawah ini:

         Pada hakikatnya pendidikan anak usia dini meliputi serangkaian proses aktivitas manusia yang merupakan kerangka dasar konsep pendidikan anak usia dini yang tidak bisa dipisahkan dengan masa sebelumnya.  Pendidikan anak usia dini merupakan masa yang akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak pada masa yang akan datang.

         Melalui pendidikan anak usia dini secara intensif diharapkan akan ada peningkatan kualitas sumber daya manusia sehingga mendominasi dan mengantisipasi pengaruh lingkungan yang merugikan.

         Dengan berdasar strategi dalam mendidik anak usia dini, maka diperlukan pendekatan dan metode dalam pendidikan  yang mampu mengembangkan potensi anak dengan tidak meninggalkan kodratnya sebagai makhluk kecil yang senantiasa bergelut dengan dunia bermain.

         Pendekatan berbasis Sentra dan Lingkaran bisa dijadikan sebuah alternatif dalam mendidik anak usia dini karena pendekatan ini berupaya untuk melejitkan seluruh potensi yang dimiliki anak sesuai dengan tahapan perkembangannya. Pendekatan inipun dapat divariasikan sesuai dengan kondisi lingkungan dimana lembaga pendidikan anak usia dini tersebut berada. Pendekatan inipun menjadikan pembelajaran menjadi hal yang menyenangkan dan mengasyikkan disamping menjadikan anak menjadi pembelajar yang aktif dan kreatif.

         Upaya untuk mewujudkan mimpi akan terbentuknya lembaga pendidikan anak usia dini yang tidak mahal namun tetap menjaga kualitas, nampaknya bisa dilaksanakan dengan memadukan pembelajaran berbasis lingkungan. PAUD berbasis lingkungan bisa dijadikan sebuah alternatif di tengah himpitan perekonomian masyarakat yang semakin lama semakin menyulitkan.

 

Saran

Atas dasar kesimpulan tersebut, maka di bawah ini disampaikan beberapa saran:

         Sudah saatnya untuk menciptakan generasi penerus yang berkualitas dalam rangka menghadapi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di era global. Karena begitu pentingnya pendidikan anak usia dini, maka orang tua harus pula mempersiapkan diri untuk mendidik anak sejak usia dini.

         Diharapkan agar para orang tua lebih proaktif terhadap perilaku-perilaku edukatif secara fisik dan psikis dalam rangka mewujudkan generasi yang unggul. Dengan mempersiapkan anak secara intensif diharapkan akan meningkat pula kualitas anak.

         Para pengelola lembaga pendidikan anak usia dini hendaknya perlu lebih memperhatikan tahap-tahap perkembangan anak, tidak hanya menekankan pada kecerdasan kognitif anak saja namun juga perlu memperhatikan kecerdasan emosi, sosial maupun spiritualnya.



Kesan hari ini
November 29, 2008, 1:28 pm
Filed under: Uncategorized

Dengan tubuh yang sangat penat, kumulai perjalanan waktu hidup ini dengan geliat kaku. Ah…enggan rasanya kutegakkan tubuh kuyu ini. Namun, bagaimanapun aku harus berjuang demi buah hatiku tercinta, dua bocah laki-laki yang senantiasa menjadi pelita hidupku. Doakan ibu , nak…. Ibu akan berjuang sekuat tenaga meski harus meregang nyawa



Hello world!
November 29, 2008, 12:34 pm
Filed under: Uncategorized

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!