TIKADAFFADIL’s Blog


MELEJITKAN POTENSI KECERDASAN ANAK USIA DINI

ABSTRAK:

Tidak ada orang tua di dunia ini yang menginginkan anaknya terlahir menjadi sosok yang buruk dalam berkepribadian serta tumpul dalam berpikir. Oleh karena itu, pendidikan anak sejak usia dini sangatlah dibutuhkan. Dalam masa “the golden age” ini, stimulus yang baik dan tepat sangat dibutuhkan agar anak bisa tumbuh dan berkembang sesuai dambaan dan harapan orang tuanya. Namun, dewasa ini disinyalir masih banyak lembaga  PAUD yang dalam proses pembelajarannya hanya menjejali anak didik dengan hafalan-hafalan atau sekedar pengetahuan akademik saja tanpa memperhatikan kebutuhan dasar anak itu sendiri,  yaitu kebutuhan akan dunianya, dunia bermain. Untuk itu diperlukan suatu pendekatan yang sesuai dengan dunia anak dalam pembelajaran di PAUD. Pendekatan BCCT (Beyond Centers and Circle Time) atau dikenal dengan SELING (Sentra dan Lingkaran) bisa menjadi salah satu alternatif. Seling bermuara dari dunia anak, yaitu belajar sambil bermain dengan benda-benda dan orang-orang di sekitarnya (lingkungan). Pembelajaran berbasis Sentra dan Lingkaran ini merupakan konsep belajar di mana para guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Selain itu, Seling bisa dimodifikasi sesuai dengan situasi dan kondisi setempat. Tidak perlu peralatan atau APE (Alat Permainan Edukatif) yang mahal karena bisa disesuaikan dengan lingkungan dan bisa menggunakan benda-benda yang ada di sekitar. PAUD berbasis lingkungan juga bisa dikelola dengan pendekatan ini. Tentu saja, pendekatan ini bisa menekan biaya sehingga akan memungkinkan pula munculnya pendidikan yang terjangkau namun tetap menjaga kualitas.

 

Kata Kunci : Pendidikan Anak Usia Dini, Potensi, Sentra, Lingkaran, Lingkungan,

 

I. Pendahuluan

A. Latar Belakang

            Anak merupakan dambaan bagi setiap orang tua. Sebagai harapan orang tua, anak selalu diharapkan memiliki masa depan yang jauh lebih baik dari kedua orang tuanya. Meskipun setiap orang tua memiliki harapan untuk menciptakan anak yang baik dan sholeh, namun tidak setiap orang tua memahami cara mendidik anak yang baik. Harapan orang tua untuk menciptakan generasi yang sholeh, generasi yang cerdas dan berakhlak baik ini telah mendorong kesadaran orang tua untuk mendidik anak sejak usia dini.

            Pentingnya mendidik anak sejak usia dini dikarenakan masa anak-anak merupakan  the golden age (masa emas) yang tidak boleh disia-siakan. Sebab, ini merupakan kesempatan luar biasa untuk mengembangkan semua potensi anak. 

            Penelitian di bidang neurologi menyebutkan bahwa selama tahun-tahun pertama, otak bayi berkembang pesat dan menghasilkan neutron yang jumlahnya melebihi kebutuhan. Sambungan tersebut harus diperkuat dengan berbagai rangsangan. Sebab, kalau tidak, sambungan itu akan mengalami atrohy (menyusut dan musnah). Banyaknya sambungan inilah yang mempengaruhi kecerdasan anak. Dosis rangsangan yang seimbang dan tepat akan mampu melipatgandakan kemampuan otak sebanyak 5 – 10 kali lipat (Suara Merdeka, 31 Mei 2008).

Masa inilah masa yang paling peka terhadap pengaruh dari luar individu anak. Anak ibarat kertas putih bersih, tinggal lingkungannya yang akan menggores kepribadian anak tersebut akan menjadi apa.  Dengan kata lain, pada masa ini pula menjadi masa yang strategis dan kritis. Dikatakan strategis karena pada masa ini anak memperoleh stimulan dan pembelajaran yang memungkinkan anak dikondisikan untuk memperoleh keberhasilan dalam kehidupannya. Namun, dikatakan masa kritis karena jika terjadi salah dalam pola asuhnya, maka anak tidak memperoleh stimulan dan perlakuan yang tepat sehingga perkembangan anak pada masa selanjutnya akan mengalami gangguan. Dengan demikian jelas bahwa pendidikan anak usia dini merupakan suatu kebutuhan yang sangat penting baik bagi orang tua maupun anak itu sendiri.

            Seiring dengan kebutuhan orang tua untuk mendidik anak sejak dini, sekarang ini telah banyak bermunculan lembaga pendidikan bagi anak usia dini di Indonesia. Lembaga pendidikan non formal ini paling tidak mengemban fungsi melejitkan seluruh potensi kecerdasan anak, penanaman nilai-nilai dasar dan pengembangan kemampuan dasar. Sehingga, penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) memerlukan pendekatan yang tepat agar dapat mengoptimalkan seluruh potensi yang dimiliki anak, terutama dalam “melejitkan” seluruh potensi kecerdasan anak.

            Namun dalam pengelolaan PAUD, trend untuk menjejali anak dengan pengetahuan-pengetahuan  akademik menjadi bagian yang tak terpisahkan. Tidak hanya di Indonesia, di Amerika Serikatpun trend untuk memasukkan pengetahuan akademik lebih menonjol, seperti yang dinyatakan oleh Lisa S. Goldstein dalam Journal of Research in Childhood Education (2007) sebagai berikut:

                        The purposes of kindergarten have been changing rapidly in the United States.

                Kindergarten teachers are facing many new demands; in addition to meeting

children’s needs across all developmental domains, they must also move

their young students toward mastery of a variety of mandated academic skills.

 

 Terlepas dari misi pendidikan yang dikembangkan, dalam prakteknya lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ini muncul sebagai jawaban atas kebutuhan pasar. Dengan prinsip kebutuhan pasar, seringkali orang yang membutuhkan harus membayar dengan biaya yang mahal. Bahkan, Direktur PAUD Ditjen PNFI Depdiknas, Gautama, menyatakan bahwa selama ini banyak lembaga PAUD yang salah dalam memperlakukan anak didiknya. Mereka lupa bahwa dunia anak adalah dunia bermain (Al Azhar : 2008).

            Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa penyelenggaraan PAUD masih belum mengacu betul dengan tahap-tahap perkembangan anak. Pada umumnya penyelenggaraan PAUD difokuskan pada peningkatan kemampuan akademik saja, baik dalam hal hafalan-hafalan maupun kemampuan baca-tulis-hitung, yang prosesnya seringkali mengabaikan tahapan perkembangan anak. Selain itu, fakta lain berbicara bahwa masih banyak anak usia dini yang terabaikan. Menurut data dari Depdiknas, sampai saat ini diperkirakan baru 43% yang terlayani, dan golongan ekonomi lemahlah yang paling banyak belum tersentuh.

 

B. Permasalahan

Dari kenyataan di atas, muncul pertanyaan-pertanyaan: Bagaimanakah upaya mengoptimalkan seluruh potensi anak usia dini sesuai tahap perkembangannya, serta bagaimana pula mengupayakan Pendidikan Anak Usia Dini yang tidak mahal namun tetap berkualitas?

 

C. Tujuan

            Tujuan dari tulisan ini adalah memberikan sumbangan pemikiran bagi peningkatan mutu Pendidikan Anak Usia Dini, terutama ditujukan kepada para pengelola PAUD, praktisi pendidikan, serta pihak-pihak yang terkait dengan bidang kependidikan.

 

II. Seputar Dunia Anak

A. Anak Sebagai Pembelajar yang Aktif

Di dalam The Journal Of Childhood Education (2006) dinyatakan bahwa kita sebaiknya membiarkan apa yang bisa dikerjakan oleh anak sendiri dan biarkan mereka berpikir sesuai dengan alam pikir mereka.

            Di dalam jurnal tersebut juga digambarkan bagaimana pemerintah China memperhatikan dan menekankan bagaimana pentingnya memahami kepribadian anak dan menghormati hak-haknya untuk meningkatkan tumbuh kembang individu anak tersebut. Pandangan tersebut senada dengan konsep tentang anak di dunia Barat kontemporer, seperti yang dinyatakan sebagai berikut:

            The contemporary view of the child in China recognizes the rights

of children, the values of childhood as an important phase for children, and

the potentials of children in learning and development (Ministry of Education,

2001a). For example, the Ministry of Education’s draft guidelines of the

Kindergarten Education Guidance Outlines (Ministry of Education,  2001a)

emphasize the importance of respecting children’s personalities and rights

 in order  to promote each child’s individual development. This view is

consistent with the concept of the child in the contemporary Western

world, where the view of the child has been transferred from “naive, innocent,

incompetent, and redemptive,” largely dependent on adults, to “rich [in]

potential, competent, and independent,” with his/her own rights to live, play,

 learn, and  develop (Moss & Petrie, 2002).

 

 Dalam pernyataan tersebut jelas dinyatakan bahwa pandangan tentang anak dari sosok yang naif, tidak berdosa, tidak mempunyai kemampuan berubah menjadi pandangan anak sebagai sosok yang sangat berpotensi, penuh dengan kemampuan serta mandiri dengan hak-haknya untuk hidup, bermain, belajar dan tumbuh berkembang.

Dalam pandangan ini, anak dilihat sebagai sosok yang aktif, bukan lagi sosok yang hanya tergantung pada orang dewasa.

 

B. Pelanjut Bangsa

            Dari sisi sumber daya manusia, anak adalah seorang generasi penerus keberlanjutan suatu bangsa dan kelompok strategis yang harus diperhatikan agar mereka dapat hidup tumbuh dan berkembang mencapai kedewasaan sampai mereka berumur 18 tahun. Abdillah (2007) menyatakan bahwa saat ini dengan jumlah sekitar 68 juta atau 30 persen penduduk adalah mereka yang berusia sebelum 18 tahun yang sangat memerlukan perhatian yang tidak sekadar tertuang dalam bentuk peringatan rutin tahunan Hari Anak Nasional.

            Dalam hal ini, mereka para pelanjut bangsa ini sangat mengharapkan bahwa orang tua atau bapak bangsa di Indonesia memiliki rasa kemanusiaan, hingga nasib mereka tidak terhijabi oleh mahalnya biaya sekolah, carut-marut perekonomian negeri dan merajalelanya ketidakpenghargaan terhadap kejujuran dalam tubuh birokrat. Kunci utama untuk menjadikan anak sebagai potensi negara dalam rangka keberlangsungan kehidupan dan kejayaan bangsa adalah bagaimana komitmen pemerintah untuk menjadikan anak sebagai prioritas utama dalam pembangunan.

            Upaya yang perlu dilakukan adalah dengan menciptakan lingkungan yang mengutamakan perlindungan bagi anak, menghidupkan nilai-nilai dan tradisi yang memajukan harkat dan martabat anak, mngeksplorasi dan memobilisasi sumber daya untuk mendukung penyelenggaraan perlindungan anak.

 

 C. Anak Usia Dini

            Sebelum dibicarakan tentang pendidikannya, terlebih dahulu akan dibahas tentang anak usia dini. Di Indonesia, menurut Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional, anak usia dini adalah kelompok manusia berusia 0 – 6 tahun.

Mansur (2007 : 88) mendefinisikan anak usia dini sebagai kelompok anak yang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan yang bersifat unik, dalam arti memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan (koordinasi motorik halus dan kasar), intelegensi (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, dan kecerdasan spiritual), sosial emosional (sikap dan perilaku serta agama), bahasa dan komunikasi yang khusus sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak.

            Berdasarkan keunikan dalam pertumbuhan dan perkembangan, anak usia dini terbagi dalam tiga tahapan, yaitu (a) masa bayi lahir sampai 12 bulan, (b) masa toddler (batita) usia 1 – 3 tahun, (c) masa prasekolah usia 3 – 6 tahun. Pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini perlu diarahkan pada peletakan dasar-dasar yang tepat bagi pertumbuhan dan perkembangan manusia seutuhnya, yaitu pertumbuhan dan perkembangan fisik, daya pikir, daya cipta, sosial emosional, bahasa dan komunikasi yang seimbang sebagai dasar pembentukan pribadi yang utuh.

 

D. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

            Pada Pasal 1 Bab I Ketentuan Umum UU Nomor 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai denagn usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

            Selanjutnya, dalam Pasal 28 dijelaskan tentang Pendidikan Anak Usia Dini sebagai berikut:       

                        “(1) Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang

pendidikan dasar; (2) Pendidikan anak usia dini  dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, non formal dan/atau informal; (3) Pendidikan anak usia dini pada jalur  pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), raudatul athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat; (4) Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan non formal berbentuk Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat; (5) Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan  oleh lingkungan; (6) Ketentuan mengenai pendidikan anak usia dini sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3) dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.”

 

                Mansur (2007) menjelaskan bahwa PAUD adalah suatu proses pembinaan tumbuh kembang anak usia lahir hingga enam tahun secara menyeluruh, yang mencakup aspek fisik dan non fisik, dengan memberikan rangsangan bagi perkembangan jasmani, rohani (moral dan spiritual), motorik, akal pikir, emosional, dan sosial yang tepat agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

Dengan demikian, PAUD dapat dideskripsikan sebagai berikut:

1)      Pemberian upaya untuk menstimulasi, membimbing, mengasuh, dan pemberian kegiatan pembelajaran yang akan menghasilkan kemampuan dan keterampilan pada anak.

2)      PAUD merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, dan kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap perilaku serta agama), bahasa dan komunikasi.

3)      Sesuai dengan keunikan dan pertumbuhan anak, PAUD disesuaikan dengan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.

Program PAUD tidak dimaksudkan untuk mencuri start apa-apa yang seharusnya diperoleh pada jenjang pendidikan dasar, melainkan untuk memberikan fasilitasi pendidikan yang sesuai bagi anak, agar anak pada saatnya memiliki kesiapan baik secara fisik, mental maupun sosial/emosionalnya dalam rangka memasuki pendidikan lebih lanjut.

 

E. Proses Pembelajaran Anak Usia Dini

Pusat  Kurikulum   Balitbang  Depdiknas   mendefinisikan  pembelajaran  anak  usia  dini

sebagai berikut:

1)      Proses pembelajaran bagi anak usia dini adalah proses interaksi antar anak, sumber belajar, dan pendidikan dalam suatu lingkungan belajar tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

2)      Sesuai dengan karakteristik anak usia dini yang bersifat aktif   melakukan berbagai eksplorasi dalam kegiatan bermain, maka proses pembelajarannya ditekankan pada aktivitas anak dalam bentuk belajar sambil bermain.

3)      Belajar sambil bermain ditekankan pada pengembangan potensi di bidang fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, dan kecerdasan spiritual), sosio-emosional (sikap perilaku serta agama), bahasa dankomunikasi menjadi kompetensi atau kemampuan yang secara aktual dimiliki anak.

4)      Penyelenggaraan pembelajaran bagi anak usia dini perlu diberikan rasa aman bagi anak usia tersebut.

5)      Sesuai dengan sifat perkembangan anak usia dini, proses pembelajarannya dilaksanakan secara terpadu.

6)      Proses pembelajaran akan terjadi apabila anak secara aktif berinteraksi dengan lingkungan belajar yang diatur pendidikan.

7)      Program belajar mengajar dirancang dan dilaksanakan sebagai suatu sistem yang dapat menciptakan kondisi yang menggugah dan memberi kemudahan bagi anak usia dini  untuk belajar sambil bermain melalui berbagai aktivitas yang bersifat konkret, dan yang sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan serta kehidupan anak usia dini.

8)      Keberhasilan proses pembelajaran ditandai dengan pencapaian pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini secara optimal dan mampu menjadi jembatan bagi anak usia dini untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan perkembangan selanjutnya.

Dari beberapa pemahaman di atas, penting bagi semua pihak untuk memahami bagaimana upaya untuk mendidik anak sejak usia dini dengan berlandaskan pemahaman yang benar, yang tidak hanya menjejali anak-anak yang tidak berdosa tersebut hanya dengan kemampuan akademik saja dan melupakan dunia mereka, dunia bermain.

Mansur (2007) menjelaskan beberapa strategi dalam mendidik anak usia dini, yaitu:    (1) Mengidentifikasikan serta menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku dan kepribadian anak usia dini sebagaimana yang diharapkan, (2) Memilih sistem pendekatan mendidik anak usia dini  berdasarkan pandangan hidup, (3) Memilih dan menetapkan prosedur yang tepat, dan (4) Menetapkan norma-norma dan batas minimal keberhasilan atau kriteria serta standar keberhasilan sehingga dapat dijadikan pedoman oleh orang tua atau pendidik dalam melakukan evaluasi yang selanjutnya akan dijadikan umpan balik buat penyempurnaan.

Dengan permasalahan tersebut sebelumnya di atas, maka perlu diadakan suatu pendekatan dalam pengelolaan PAUD. Pendekatan tersebut tentu saja merupakan pendekatan yang bermuara dari dunia anak, yaitu belajar sambil bermain dengan benda-benda dan orang-orang di sekitarnya (lingkungan). Pengalaman bermain yang tepat dapat mengoptimalkan seluruh aspek perkembangan anak, baik fisik, emosi, kognisi maupun sosial anak.

 

 

 

 

F. Mengajar dengan Sentra dan Lingkaran (SELING)

1. Sekilas tentang SELING

            Pendidikan anak usia dini merupakan pendidikan yang sangat mendasar. Hal ini dikarenakan masa usia dini merupakan masa emas perkembangan anak, yang apabila pada masa tersebut anak diberikan stimulasi yang tepat akan menjadi modal penting bagi perkembangan anak di kemudian waktu. Dalam hal ini, pendidikan anak usia dini paling tidak mengemban fungsi melejitkan seluruh potensi kecerdasan anak, penanaman nilai-nilai dasar dan pengembangan kemampuan dasar. Untuk memerankan fungsi tersebut dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, diantaranya adalah pendekatan “Beyond Centers and Circle Time” (BCCT) atau pendekatan “Sentra dan Lingkaran”.

Dalam dunia pendidikan anak pra-sekolah saat sekarang ini, pendekatan Sentra dan Lingkaran (SELING) atau juga disebut BCCT (Beyond Centers and Circle Time) muncul sebagai sebuah pendekatan yang mulai ngetrend di Indonesia.  Awalnya, BCCT dikembangkan oleh Creative Center for Chilhood Research and Training di Florida USA dan dilaksanakan di Creative Pre school Florida selama lebih dari 25 tahun.

Ditilik dari maknanya, pendekatan Sentra dan Lingkaran adalah pendekatan penyelenggaraan PAUD yang berfokus pada anak yang dalam proses pembelajarannya berpusat di sentra main dan saat anak dalam lingkaran dengan menggunakan 4 jenis pijakan (scaffolding) untuk mendukung perkembangan anak. Pijakan adalah dukungan yang berubah-ubah yang disesuaikan dengan perkembangan yang dicapai anak yang diberikan sebagai pijakan untuk mencapai perkembangan yang lebih tinggi (Winanti, 2008).

Sentra main adalah zona atau area main anak yang dilengkapi dengan seperangkat alat main yang berfungsi sebagai pijakan lingkungan yang diperlukan untuk mendukung perkembangan anak dalam 3 jenis main yaitu main sensorimotor atau fungsional, main peran dan main pengembangan. Saat lingkaran adalah saat dimana pendidik duduk bersama anak dengan posisi melingkar untuk memberikan pijakan kepada anak yang dilakukan sebelum atau sesudah main.

Pembelajaran berbasis Sentra dan Lingkaran ini merupakan konsep belajar di mana para guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dengan diterapkannya pendekatan Seling ini, anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan “alamiah” dan belajar akan lebih bermakna jika anak “mengalami” apa yang dipelajari bukan sekedar mengetahui. Dengan kata lain, ”student learns best by actively constructing their own understanding” (cara belajar terbaik adalah siswa mengkonstruksikan sendiri pengalamannya). Landasan filosofi dalam Seling adalah “Konstruktivisme”, yakni filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak sekedar menghafal. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Bahwa pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta yang terpisah namun mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan.

Banyak keunggulan atau manfaat yang bisa diperoleh dengan pendekatan ini, diantaranya merangsang seluruh aspek kecerdasan anak (kecerdasan jamak), merangsang anak untuk aktif, kreatif dan terus berfikir dengan menggali pengalamannya sendiri dan tentu saja  dari sisi pendidik mereka akan menjadi fasilitator, motivator dan evaluator yang kreatif. Selain itu, dalam proses pembelajarannya tanpa terasa anak akan belajar meskipun dengan nuansa permainan. Dengan istilah lain, belajar sambil bermain. 

Lebih dari  itu, BCCT atau Seling juga merupakan pendekatan pembelajaran yang menggunakan konsep “anak adalah unik”, karena bila dilakukan pendidikan pada anak usia dini, misalnya 20 anak, maka akan menghasilkan 20 hasil karya yang berbeda meskipun dengan bahan ajar yang digunakan sama (Al Azhar : 2008).

 

2. Penerapan Seling di dalam Kelas

            Metode Seling dirancang dalam bentuk sentra-sentra, misalnya sentra alam, sentra bermain peran, sentra rancang bangun, sentra persiapan, sentra imtaq, sentra seni dan kreatifitas, sentra musik dan olah tubuh, sentra IT, dll. Dalam pelaksanaannya, setiap guru bertanggung jawab pada sekitar 7-12 murid dengan moving class sesuai dengan sentra gilirannya.

            Untuk menerapkan metode ini, guru hendaknya mengikuti pijakan-pijakan guna membentuk keberaturan antara bermain dan belajar. Berikut ini adalah pijakan-pijakan yang harus diikuti:

 

§         Pijakan lingkungan

Guru menata lingkungan yang disesuaikan dengan intensitas dan densitas

§         Pijakan sebelum bermain

Guru  meminta  siswa  untuk  membentuk  lingkaran.  Guru  ada  diantara  siswa  sambil

bernyanyi. Guru meminta para siswa duduk melingkar. Guru meminta para siswa berdoa bersama. Guru menanyakan para siswa kesiapan mendengar cerita dan memasuki sentra. Guru memulai bercerita menggunakan media yang sesuai dengan tema. Guru menginformasikan jenis mainan yang ada dan menyampaikan aturan bermain. Guru meminta siswa masuk ke area sentra.

§         Pijakan saat bermain

Guru mempersiapkan catatan perkembangan siswa. Guru mencatat perilaku, kemampuan dan celetukan siswa. Guru membantu siswa jika dibutuhkan. Guru mengingatkan siswa bila ada yang lupa atau melanggar aturan.

§         Pijakan setelah bermain/recalling

Guru meminta siswa untuk membereskan mainan dan alat yang dipakai. Guru meminta siswa menceritakan pengalaman bermainnya sambil menghitung jumlah kegiatan yang dilakukan. Guru menutup kegiatan dengan berdoa bersama. Guru membagikan buku komunikasi (buku penghubung dengan orang tua) sebelum pulang (Direktorat PAUD : 2006).

 

Dari hal-hal tersebut di atas, dalam pendekatan berbasis Sentra dan Lingkaran ini, terlihat bahwa anak diberi kesempatan untuk bermain secara aktif dan  kreatif di sentra-sentra pembelajaran yang tersedia guna mengembangkan dirinya seoptimal mungkin sesuai dengan potensi dan minat masing-masing. Dengan kata lain, pendekatan ini juga memperlihatkan kepada semua orang akan pentingnya bermain sensorimotor, bermain peran, dan bermain pembangunan sampai munculnya keaksaraan. Sehingga para pendidik PAUD, pengelola dan tenaga kependidikan lainnya serta para orang tua dapat mempelajari dan mencoba menerapkan pendekatan BCCT tersebut untuk mewujudkan proses pembelajaran yang menyenangkan, mengasyikkan dan mencerdaskan.       

            Dalam pelaksanaannya, pendekatan ini tidak memerlukan peralatan yang rumit dan banyak, tidak juga APE (Alat Permainan Edukatif) yang mahal. Semua bisa disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat sesuai lingkungan dimana anak tersebut berada, dengan benda-benda yang biasa mereka lihat. Sehingga, dapat ditarik kesimpulan bahwa penerapan pendekatan ini bisa dilaksanakan oleh PAUD di manapun dan di kalangan apapun bahkan sampai di kalangan menengah ke bawah yang nota bene memerlukan pendidikan yang tidak mahal namun tetap berkualitas.

            Namun, bukan berarti dengan menggunakan pendekatan ini dalam proses pembelajaran, para pengelola PAUD akan melupakan penanaman nilai-nilai moral pada anak. Kegiatan penanaman nilai moral anak bisa dilaksanakan ketika anak berada dalam lingkaran, sentra dan pijakan bahkan ketika mereka akan pulang. Bagaimanapun, kegiatan ini tidak boleh terlepas dalam pendidikan anak usia dini, karena dari sinilah akan muncul kepribadian anak seperti yang diharapkan oleh semua pihak.

 

G. PAUD Berbasis Lingkungan

            Dalam masa yang serba sulit ini, bukan hal yang mustahil jika memimpikan pendidikan anak usia dini yang murah namun tetap bermutu. Selain dengan pendekatan Seling, PAUD berbasis Lingkungan bisa dijadikan alternatif dalam mendidik anak. Back to nature, kata orang. Sutarno (2008) menyatakan bahwa  dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sarana dan sumber belajar, niscaya akan mampu menekan biaya. Lingkungan sekitar kita seperti tumbuhan dan hewan adalah media yang efektif dan efisien dan tentu saja murah, yang tidak perlu kita beli dengan harga yang selangit.

            PAUD berbasis lingkungan bisa menjadi alternatif, karena dewasa ini banyak pengelola PAUD dan bahkan orang tua yang berlomba-lomba membeli APE (Alat Permainan Edukatif) dari luar negeri yang tentu saja harganya pasti tidak murah namun cenderung membentuk jiwa yang egoistis karena umumnya dimainkan secara individual. Padahal, kalau kita mau kembali ke alam lingkungan kita, banyak alternatif permainan tradisional yang mampu menggantikan APE import tersebut.

Lingkungan alam, misalnya tanah, pasir, tanah liat, bisa dijadikan alat untuk mengembangkan motorik halus dengan membuat guratan-guratan garis, atau membentuk benda dan bentuk sesuai keinginan anak dengan tanah liat sebagai ganti plastisin

Coba kita cermati bagaimana asyiknya anak ketika mereka bermain dengan air, yang nota bene merupakan zat ciptaan Tuhan yang murah, meriah dan gampang dicari. Dengan memodifikasi air dengan peralatan lain di sekitar kita, misalnya botol plastik, corong, pewarna kue, sabun cair, anak bisa melakukan kegiatan bermain di sentra dengan berbagai kegiatan seperti mengocok air yang bisa melatih kekuatan tangan untuk bekal menulis, menakar air dimana anak bisa belajar matematika serta banyak kegiatan lain yang bisa dinikmati anak dengan belajar sambil bermain dengan air. Dengan demikian, anak dapat melatih keterampilan motorik kasar dan halus serta mendapatkan banyak pengetahuan saat bermain air.

Bahkan biji-bijian seperti kacang tanah, kedelai, biji jagung juga bisa dijadikan sumber belajar yang murah bagi pembelajaran anak. Kegiatan yang bisa dilakukan di sekolah misalnya adalah dengan menggunakan biji beras, kacang-kacangan berbagai jenis, pasir, wadah plastik, corong, sendok plastik, serta benda-benda lainnya dalam kegiatan di sentra. Kegiatan yang bisa dilakukan adalah menakar, menjepit biji-bijian untuk dikelompokkan, menempel biji-bijian serta kegiatan mengasyikkan lainnya.  Tak kalah asyiknya adalah kegiatan meronce. Kegiatan inipun  bisa menggunakan bahan alam yang tersedia di sekitar kita seperti misalnya potongan bambu kecil, pelepah batang padi, pelepah batang daun pepaya, pelepah daun pisang, manik-manik alam yang berupa biji nangka, biji salak, biji pala, dan biji-bijian lainnya. Dengan kegiatan penataan main bahan alam akan membantu anak belajar banyak hal diantaranya belajar matematika, sosial, sensori motorik, bahasa dan kemampuan lainnya.

Tak kalah dengan itu, permainan tradisional seperti petak umpet, lompat tali bahkan bermain di pematang sawah atau selokan air di sekitar anak juga bisa digunakan untuk sarana mengembangkan kemampuan motorik kasar anak tanpa harus dengan flying fox atau jenis outbond lainnya yang menyedot banyak dana dari kantong.   

 

III. Penutup

            Anak adalah mustika atau mutiara yang sering kita cari untuk dijadikan tumpuan harapan atas membaiknya Indonesia ke depan. Negara Indonesia sangat membutuhkan kehadiran pemimpin yang peduli terhadap anak. Sebab, eksistensi kader masa depan pemimpin bangsa berasal dari anak. Dapat diibaratkan bahwa kegagalan dalam mengelola anak berarti pula  gagalnya sebuah generasi penerus bangsa.

            Jika saja kita (orang tua, pejabat pemerintah dan pendidik) mau memusatkan perhatian pada anak-anak kita, indah rasanya kalau kasih sayang keluarga, kebijakan pemerintahan, dan cara serta biaya pendidikan memihak anak tanpa pandang bulu.

 

Kesimpulan

            Berdasarkan uraian di atas, ada beberapa kesimpulan yang dapat dikemukakan di bawah ini:

         Pada hakikatnya pendidikan anak usia dini meliputi serangkaian proses aktivitas manusia yang merupakan kerangka dasar konsep pendidikan anak usia dini yang tidak bisa dipisahkan dengan masa sebelumnya.  Pendidikan anak usia dini merupakan masa yang akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak pada masa yang akan datang.

         Melalui pendidikan anak usia dini secara intensif diharapkan akan ada peningkatan kualitas sumber daya manusia sehingga mendominasi dan mengantisipasi pengaruh lingkungan yang merugikan.

         Dengan berdasar strategi dalam mendidik anak usia dini, maka diperlukan pendekatan dan metode dalam pendidikan  yang mampu mengembangkan potensi anak dengan tidak meninggalkan kodratnya sebagai makhluk kecil yang senantiasa bergelut dengan dunia bermain.

         Pendekatan berbasis Sentra dan Lingkaran bisa dijadikan sebuah alternatif dalam mendidik anak usia dini karena pendekatan ini berupaya untuk melejitkan seluruh potensi yang dimiliki anak sesuai dengan tahapan perkembangannya. Pendekatan inipun dapat divariasikan sesuai dengan kondisi lingkungan dimana lembaga pendidikan anak usia dini tersebut berada. Pendekatan inipun menjadikan pembelajaran menjadi hal yang menyenangkan dan mengasyikkan disamping menjadikan anak menjadi pembelajar yang aktif dan kreatif.

         Upaya untuk mewujudkan mimpi akan terbentuknya lembaga pendidikan anak usia dini yang tidak mahal namun tetap menjaga kualitas, nampaknya bisa dilaksanakan dengan memadukan pembelajaran berbasis lingkungan. PAUD berbasis lingkungan bisa dijadikan sebuah alternatif di tengah himpitan perekonomian masyarakat yang semakin lama semakin menyulitkan.

 

Saran

Atas dasar kesimpulan tersebut, maka di bawah ini disampaikan beberapa saran:

         Sudah saatnya untuk menciptakan generasi penerus yang berkualitas dalam rangka menghadapi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di era global. Karena begitu pentingnya pendidikan anak usia dini, maka orang tua harus pula mempersiapkan diri untuk mendidik anak sejak usia dini.

         Diharapkan agar para orang tua lebih proaktif terhadap perilaku-perilaku edukatif secara fisik dan psikis dalam rangka mewujudkan generasi yang unggul. Dengan mempersiapkan anak secara intensif diharapkan akan meningkat pula kualitas anak.

         Para pengelola lembaga pendidikan anak usia dini hendaknya perlu lebih memperhatikan tahap-tahap perkembangan anak, tidak hanya menekankan pada kecerdasan kognitif anak saja namun juga perlu memperhatikan kecerdasan emosi, sosial maupun spiritualnya.

 

 


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: